DN.com – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, mengaku terkejut setelah mengetahui adanya impor batu bara dari Amerika Serikat (AS), meski Indonesia selama ini dikenal sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia.
Qodari mengatakan informasi tersebut baru diketahuinya setelah membaca pemberitaan di surat kabar. Jum’at (10/7/2026).
“Saya tadi mau ke sini baca koran, terkejut saya baca Indonesia impor batu bara dari Amerika Serikat,” ujar Qodari dalam Bisnis Indonesia Forum bertema Reindustrialisasi Indonesia di Jakarta.
Baca Juga:
Mendagri Tito Minta Pemda Efisiensi Anggaran demi Bayar Gaji PPPK, Larang Pegawai Dirumahkan
Resmikan Biodiesel B50, Presiden Prabowo: Hemat Devisa Rp170 Triliun dan Perkuat Kemandirian Energi
Meski demikian, ia mengaku belum memastikan kebenaran informasi tersebut. Namun, jika benar, kondisi itu dinilai cukup memprihatinkan.
“Nah ini kan celaka bukan 13 lagi ya, celaka 19. Indonesia jual ke Singapura, Singapura jual ke Amerika, Amerika jual ke Indonesia,” katanya.
Qodari menegaskan Presiden Prabowo Subianto terus mendorong kebijakan hilirisasi agar sumber daya alam Indonesia tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah di dalam negeri sehingga memiliki nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas industri nasional, dan memperkuat penguasaan teknologi.
“Komitmen ini benar-benar bukan sekadar pidato, tetapi langkah nyata dari Bapak Presiden,” ujarnya, pada Rabu (8/7/2026).
Baca Juga:
BNNP Jabar Ungkap Delapan Kasus Narkoba Semester I 2026, Amankan 13 Tersangka dan Ratusan Gram Sabu
Guru Besar UI Usul Program MBG Dikelola Sekolah, Dinilai Lebih Efisien dan Minim Risiko Korupsi
Di sisi lain, Indonesia Mining Association (IMA) menjelaskan bahwa batu bara yang diimpor dari Amerika Serikat bukan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), melainkan batu bara metalurgi yang menjadi bahan baku industri baja.
Batu bara jenis ini digunakan untuk menghasilkan kokas yang berfungsi sebagai sumber panas sekaligus material pereduksi dalam proses pengolahan bijih besi di tungku sembur.
Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), ekspor batu bara AS ke Indonesia pada kuartal I 2026 meningkat 158,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
IMA menyebut lonjakan impor tersebut dipicu meningkatnya kebutuhan batu bara metalurgi seiring berkembangnya program hilirisasi mineral, pembangunan smelter, serta meningkatnya permintaan baja nasional.
Baca Juga:
TNI Tegaskan Pengamanan Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Atas Permintaan Kejaksaan
Bahlil: CNG Pengganti LPG 3 Kg Lebih Murah, Potensi Hemat Subsidi hingga Rp30 Triliun
Kas Pemprov Jabar Tembus Rp71 Miliar, PKB dan BBNKB Jadi Penyumbang Terbesar Pendapatan Daerah
Sementara itu, produksi batu bara Indonesia hingga kini masih didominasi batu bara termal berkalori rendah hingga menengah yang umumnya digunakan untuk PLTU dan industri semen, sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan batu bara metalurgi dalam negeri.
Data IMA mencatat nilai impor batu bara dari Amerika Serikat mencapai sekitar 198,7 juta dolar AS atau setara Rp3,57 triliun (asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS).
Meski berstatus sebagai produsen batu bara terbesar di dunia, Indonesia masih mengandalkan impor batu bara metalurgi untuk mendukung pengembangan industri baja, smelter, dan sektor manufaktur nasional.***
Penulis : Redaksi






