Judul:
DN.com – Sejarah Sunda kerap terasa seperti membaca novel yang kehilangan bagian penting di tengah cerita.
Di tanah yang menjunjung filosofi Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh, jejak fisik kejayaan masa lalu memang tidak selalu terlihat jelas. Senin (11/5/2026).
Namun, ada satu peninggalan yang tetap bertahan melampaui waktu: Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Baca Juga:
Transparansi BUMDes Disorot, Warga Diminta Aktif Awasi dan Laporkan Dugaan Penyimpangan
Sejumlah SPBU di Jakarta Hentikan Penjualan Pertalite, Ini Daftar Lokasinya
Dedi Mulyadi Minta Polisi Telusuri Aman Yani, Dana Pensiun BJB Diduga Dicairkan Pihak Lain
Mahkota Binokasih yang terbuat dari emas murni seberat sekitar 8 kilogram dan telah berusia lebih dari enam abad bukan sekadar simbol kemewahan.
Lebih dari itu, mahkota ini menjadi penopang identitas Sunda agar tidak hilang di tengah arus globalisasi.
Ini menjadi bukti nyata bahwa peradaban Sunda pernah memiliki sistem pemerintahan yang mapan dan simbol kedaulatan yang kuat.
Prosesi kirab Mahkota Binokasih dari ruang museum ke ruang publik menjadi langkah simbolis yang penting.
Baca Juga:
MK Kabulkan Pencabutan Gugatan APBN 2026 Terkait Program Makan Bergizi Gratis
Sidak Dudung di Dapur MBG Jakarta: Temukan Belatung hingga Ancam Penutupan SPPG Tak Layak
ICW Laporkan Dugaan Markup Rp49,5 Miliar Sertifikasi Halal BGN ke KPK
Kirab ini melintasi delapan titik sejarah di Jawa Barat, mulai dari Sumedang, Galuh, hingga berakhir di Bandung.
Upaya ini bukan hanya seremonial, tetapi juga bertujuan menghidupkan kembali sejarah yang selama ini terasa “beku”, terutama bagi generasi muda agar tidak kehilangan jati diri.
Selain nilai sejarah, kirab ini juga membawa dampak ekonomi yang nyata.
Pergerakan masyarakat di setiap daerah yang disinggahi mulai dari Kawali, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor, Karawang hingga Cirebon mendorong aktivitas ekonomi lokal.
Baca Juga:
Sidik Jari di Pintu dan Botol Obat Nyamuk Bongkar Alibi Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Paoman
Penjualan Mobil Melonjak April 2026, Tren Mobil Listrik Kian Menguat
Kemenag Tegaskan Nol Toleransi Kekerasan Seksual di Pesantren
Kehadiran ribuan warga menjadi peluang bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM untuk meningkatkan pendapatan.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya dapat menjadi penggerak ekonomi yang inklusif.
Terkait anggapan bahwa kirab ini mengandung unsur mistik dan bertentangan dengan norma agama, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika persepsi di ruang publik.
Namun pada dasarnya, kegiatan ini merupakan bentuk edukasi sejarah dan penghormatan terhadap warisan leluhur, tanpa kaitan dengan praktik keagamaan tertentu.
Pada akhirnya, kirab Mahkota Binokasih bukan sekadar menampilkan benda bersejarah. Ia menjadi simbol bahwa masyarakat Sunda tidak melupakan akar budayanya.
Meski jejak fisik peradaban bisa hilang, semangat dan nilai-nilainya akan tetap hidup selama terus dijaga dan dihormati.***
Penulis : Redaksi






