DN.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pada Kamis (28/5/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.858 per dolar AS pada sesi perdagangan pagi. Dikutip, Sabtu (29/5/2026).
Di tengah pelemahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ini tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.
“Ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini tidak masuk akal sebenarnya. Biasanya pelemahan terjadi jika ada gangguan pada fundamental ekonomi,” ujar Purbaya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).
Baca Juga:
Gaji Pencuci Piring MBG Tembus Rp3,5 Juta, Guru Honorer Masih Rp800 Ribu
Idul Adha 1447 H, Polda Jabar Sembelih 160 Hewan Kurban, Perkuat Kepedulian Sosial ke Masyarakat
Golkar Desak Dana MBG Tak Ganggu Anggaran Pendidikan, Mekeng Siap Surati Presiden Prabowo
Menurutnya, pemerintah bersama sejumlah pihak telah melakukan langkah intervensi di pasar surat berharga negara (SBN) untuk menjaga stabilitas imbal hasil (yield) obligasi.
Stabilitas pasar obligasi dinilai penting guna menjaga kepercayaan investor.
“Walaupun rupiah melemah, yield obligasi justru turun karena adanya aksi pembelian dari pemerintah dan pihak terkait agar tetap terkendali,” jelasnya.
Purbaya juga mengungkapkan bahwa saat ini mulai terlihat adanya aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan domestik.
Baca Juga:
Polisi Ungkap Penipuan Penjualan Titik SPPG di Jabar, Kerugian Capai Rp1,9 Miliar
Fakta Persidangan Terungkap: Bukti CCTV dan Temuan INAFIS Perkuat Peran Terdakwa dalam Kasus Paoman
Hal ini dinilai menjadi sinyal positif bagi kondisi ekonomi nasional.
“Kita mulai melihat ada aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan kita. Karena itu, pelemahan ini terasa tidak sejalan dengan fundamental ekonomi,” tambahnya.
Namun demikian, pandangan berbeda disampaikan ekonom Yanuar Rizky. Ia menilai intervensi di pasar obligasi justru berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, terutama jika ketergantungan terhadap dana asing masih tinggi.
“Jika intervensi dilakukan untuk menahan yield di tengah tren global yang menurun, secara teori likuiditas justru dapat mendorong pelemahan rupiah,” ujarnya.
Yanuar menekankan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap aliran dana asing masih cukup besar, sehingga pergerakan investor global sangat mempengaruhi nilai tukar rupiah.
Baca Juga:
Usai Sukajadi-Cicadas, Penataan PKL Menyasar Monju, Pati Ukur hingga Ciroyom
Bandara Kertajati Berpotensi Jadi Pusat Perawatan Hercules Asia, Tawaran AS Masih Dikaji
“Ketika melawan arus pasar global, risiko tekanan justru semakin besar. Bahkan bisa membuat pelaku pasar domestik ikut mengikuti arah investor besar,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar pejabat publik berhati-hati dalam memberikan pernyataan terkait kondisi pasar keuangan, karena dapat memengaruhi persepsi dan sentimen investor.
“Saya heran jika pejabat pemerintah justru terkesan seperti influencer trading,” katanya.
Tekanan terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir terjadi di tengah ketidakpastian arah suku bunga AS serta sentimen global terhadap pasar negara berkembang.
Selain itu, pasar saham domestik juga ikut tertekan, dengan IHSG yang mengalami penurunan signifikan dari level tertinggi sebelumnya.***
Penulis : Redaksi






