DN.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, satu pemandangan klasik saat mudik Lebaran masih kerap terjadi, yakni antrean panjang di gerbang tol. Rabu (25/3/2026).
Bagi pakar transportasi, kondisi ini merupakan persoalan sistematis yang berakar dari hal sederhana yang sering diabaikan.
Senior Investigator KNKT sekaligus Wakil Sekjen Bidang Keselamatan Jalan MTI, Ahmad Wildan, menegaskan bahwa kinerja jaringan transportasi tidak bisa dinilai secara parsial.
Baca Juga:
338 KPM di Desa Kalitengah Terima Bantuan Sembako, Warga Bersyukur Terbantu
Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 2 Subang Berlangsung Khidmat, Apresiasi Prestasi dan Kreativitas Siswa
Bapenda Subang Menang Sengketa PBB Lawan Dua Perusahaan Pelabuhan Patimban
Menurutnya, pengalaman pengguna ditentukan oleh keseluruhan perjalanan, mulai dari ruas jalan hingga simpul-simpul vital seperti gerbang tol, rest area, dan dermaga.
“Jangan berbicara parsial. Percuma jalan tol lancar jika pengguna harus ‘parkir’ berjam-jam di gerbang tol atau dermaga feri,” ujar Wildan.
Ia menjelaskan, kemacetan di titik simpul terjadi ketika arus jenuh (saturation flow) tercapai.
Secara teknis, kondisi ini muncul ketika laju kedatangan kendaraan jauh lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pelayanan di gerbang tol.
Baca Juga:
Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif
Gempa M 7,7 Picu Tsunami, BMKG Catat Gelombang Masuk Daratan di Sejumlah Wilayah Timur Indonesia
“Arus jenuh terjadi jika waktu kedatangan lebih tinggi dari waktu pelayanan.
Misalnya, kendaraan datang setiap satu detik, tetapi proses pelayanan memakan waktu satu menit, maka antrean akan cepat mengular,” jelasnya.
Kondisi tersebut sering diperparah oleh kebiasaan pengendara yang melakukan top-up saldo atau mencari kartu tol saat berada di gerbang.
Akibatnya, waktu transaksi menjadi lebih lama dan memicu penumpukan kendaraan dalam waktu singkat.
Baca Juga:
As SDM Kapolri Tegaskan Seleksi Akpol 2026 Bersih, Tanpa Jalur Titipan
Skandal MBG Terbongkar: Rp1,03 Triliun Motor Listrik Fiktif, Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi di BGN
Panglima TNI Setujui Pengunduran Diri Mayjen Trenggono, Siap Fokus di BGN
Untuk mengatasi masalah ini, Wildan menekankan dua langkah utama, yakni mempercepat waktu pelayanan dan mengatur ritme kedatangan kendaraan.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pemberian diskon tarif tol untuk menyebar volume kendaraan agar tidak menumpuk di waktu tertentu.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat agar mempersiapkan saldo kartu tol sebelum perjalanan. Langkah ini dinilai efektif untuk memangkas waktu transaksi di gerbang tol.
“Edukasi secara masif perlu dilakukan agar pengguna sudah menyiapkan saldo sesuai kebutuhan perjalanan, sehingga top-up di gerbang tol bisa dihindari,” tambahnya.
Di sisi lain, peningkatan jumlah gardu tol serta penerapan teknologi transaksi yang lebih canggih juga menjadi solusi penting.
Dengan sistem yang lebih cepat, proses pembayaran diharapkan bisa berlangsung hanya dalam hitungan detik, sehingga antrean panjang saat mudik dapat diminimalkan.***
Penulis : Redaksi






