Tuduhan Ijazah Palsu Dipertanyakan, Metodologi yang Kurang Tepat, Peneliti LSI: Roy Suryo, Bukan Riset, Tapi Retorika!

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 23 Mei 2025 - 20:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konferensi Pers Bareskrim Polri Hasilnya: identik. Dari jenis kertas hingga format tanda tangan, semuanya berasal dari sistem akademik yang sah.

Konferensi Pers Bareskrim Polri Hasilnya: identik. Dari jenis kertas hingga format tanda tangan, semuanya berasal dari sistem akademik yang sah.

 

Deltanusantara.com – Sudah banyak para ahli penelitian memberikan pencerahan kesalahan metodologis dalam penelitian, yang dilakukan Roy Suryo dan kawan-kawan dalam meneliti Ijazah Jokowi yang dituduh palsu.

Denny JA, seorang peneliti dan pendiri Lingkar Survey Indonesia (LSI) menyebutkan 5 Kesalahan Metodologi pihak penuduh.

Apa yang diuraikan sangatlah mencerahkan, dan isinya tidak tekstur cetakan. Namun satu hal krusial diabaikan, data tersebut tidak tervalidasi. Jumat (23/5/2025).

Sebagai data sekunder yang belum diverifikasi, gambar digital itu tidak dapat dijadikan dasar analisis apapun,” jelas dia dalam uraian tulisannya.

Ia menyebutkan, seorang peneliti profesional tahu menggunakan data sekunder tanpa konfirmasi adalah pelanggaran berat dalam metode ilmiah.

Bukankah gambar itu bisa terdistorsi? Bagaimana proses digitalisasinya? Bagaimana kita tahu pasti data sekunder itu adalah sama dengan data primer?

Roy CS juga, mengabaikan Prinsip Triangulasi. Dalam riset yang sahih, satu sumber tak pernah cukup.

Baca Juga:  Kemenhub Imbau Pemudik Manfaatkan WFA untuk Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret

Harus ada pembanding, harus ada konfirmasi silang, harus ada proses pengujian,” tulisnya.

Penuduh tidak membandingkan dengan ijazah alumni seangkatan, meminta klarifikasi resmi ke UGM sebelum menuduh, atau mengajukan uji forensik independen.

la hanya mengandalkan satu gambar digital. Ini bukan riset. Ini retorika yang menyamar sebagai analisis,”jelasnya.

“Ilusi Visual yang menyesatkan salah satu argumen yang diajukan adalah bahwa font Times New Roman belum digunakan pada tahun 1985.

Padahal secara historis, font itu telah dikembangkan sejak 1931 dan digunakan secara luas dalam mesin ketik dan percetakan profesional sejak tahun 1932.(”2)

Membangun argumen besar dari fakta keliru semacam ini disebut false premise. Bila fondasinya salah, maka seluruh bangunan argumennya runtuh.

Penuduh, mengabaikan Etika Riset. Ilmu bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal etik.

Baca Juga:  Pabrik Mobil Listrik VinFast Asal Vietnam, Senilai Rp 3,2 Triliun, Akhir Tahun 2025, Siap Beroperasi di Subang 

Peneliti yang jujur mengakui keterbatasan data, bersedia diuji, dan tidak menyimpulkan besar dari bukti kecil.

Namun dalam kasus ini, si penuduh menggunakan sumber tak sahih, menolak klarifikasi dari lembaga resmi (UGM, yang menyatakan keaslian ijazah) tetap menyebarkan simpulan yang telah dibantah lembaga resmi UGM.

Alih-alih menyelidiki secara netral, penuduh tampaknya hanya ingin mencari konfirmasi bagi praduga awalnya.

la memilih data yang cocok dengan tuduhan dan mengabaikan semua bukti yang membantah.

Inilah yang disebut confirmation bias. Yang dicari tidak kebenaran, tapi hanya mencari pembenaran.

Untuk diketahui dari hasil Proses Pembuktian Bareskrim yang disampaikan dalam Konferensi Pers

Di ruang laboratorium forensik Puslabfor Polri, selembar ijazah diperiksa laksana artefak sejarah.

Tak ada debat politik, tak ada opini liar. Yang bekerja hanya cahaya mikroskop dan data.

Baca Juga:  KPK Periksa 12 ASN Bea Cukai, Kasus Korupsi Impor Barang Seret 7 Tersangka

Tim penyidik menelaah:

• bahan kertas dan pengamannya (seperti watermark),

• teknik cetak (handpress/letterpress),

• tinta tulisan tangan,

• stempel dan tanda tangan dari dekan serta rektor UGM saat itu.

Dokumen tersebut dibandingkan dengan ijazah milik alumni seangkatan Presiden Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM.

Hasilnya: identik. Dari jenis kertas hingga format tanda tangan, semuanya berasal dari sistem akademik yang sah.

Penelusuran bahkan dilakukan ke 13 titik lokasi, termasuk:

• Rektorat dan fakultas di UGM,

• hingga ke arsip koran Kedaulatan Rakyat edisi Juli 1980, yang mencatat nama Joko Widodo sebagai mahasiswa baru.

Semua bukti—fisik, digital, dan historis—mengarah pada satu kesimpulan:

Ijazah itu asli. Ia bagian dari sejarah akademik yang otentik dan sah.***

Yuk! baca artikel Deltanusantara.com lainnya di GoogleNews.

 

 

Penulis : Gerry

Berita Terkait

Prabowo Lantik Pimpinan Universitas Republik Indonesia, Siapkan Kampus Pencetak Calon Pemimpin Bangsa
Menkeu Bertemu Kepala BGN Pekan Depan, Bahas Efisiensi Anggaran Program MBG
KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anggota DPR dalam Kasus Dugaan Suap Dana Hibah Pokmas Jatim
Prabowo Rombak Struktur BGN, Lima Pejabat Eselon I Resmi Dilantik Perkuat Program MBG
Prabowo Resmi Tetapkan Asep Nana Mulyana sebagai Wakil Jaksa Agung Lewat Keppres
Istana Jelaskan Alasan Prabowo dan Gibran Tak Duduk Berdampingan di Sidang Kabinet Paripurna
Kepala BGN Nanik S. Deyang Mundur, Fokus Berobat Penyakit Jantung atas Restu Presiden Prabowo
Rencana Pemerintah Gandeng PT Pindad Produksi Tabung CNG 3 Kg

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:47 WIB

Prabowo Lantik Pimpinan Universitas Republik Indonesia, Siapkan Kampus Pencetak Calon Pemimpin Bangsa

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:36 WIB

Menkeu Bertemu Kepala BGN Pekan Depan, Bahas Efisiensi Anggaran Program MBG

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:26 WIB

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anggota DPR dalam Kasus Dugaan Suap Dana Hibah Pokmas Jatim

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:18 WIB

Prabowo Rombak Struktur BGN, Lima Pejabat Eselon I Resmi Dilantik Perkuat Program MBG

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:36 WIB

Prabowo Resmi Tetapkan Asep Nana Mulyana sebagai Wakil Jaksa Agung Lewat Keppres

Berita Terbaru