DN.com – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyoroti sejumlah perubahan dalam gaya Presiden Prabowo Subianto menjalankan pemerintahan.
Ia menyinggung frekuensi perjalanan Presiden ke luar negeri hingga cara Prabowo menyampaikan pidato di hadapan publik.
Menurut Mahfud, Prabowo kini terlihat lebih jarang melakukan kunjungan ke luar negeri dibandingkan pada awal masa pemerintahannya.
Ia menyebut perubahan tersebut terlihat setelah muncul kritik terhadap intensitas perjalanan luar negeri Presiden.
“Pak Prabowo nampak berubah. Misalnya satu, sudah lama kan dia tidak pergi ke luar negeri. Padahal dulu hampir setiap minggu kan, sekarang nggak pernah,” kata Mahfud dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya @MahfudMD, Rabu (2/9/2026).
Mahfud MD pun mengaitkan perubahan tersebut dengan kritik yang sebelumnya disampaikan diplomat sekaligus akademisi Dino Patti Djalal.
Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui apakah berkurangnya perjalanan luar negeri Prabowo merupakan respons langsung terhadap kritik tersebut.
“Ketika muncul kritik yang dimotori oleh Dino Patti Djalal itu, kemudian sekarang Pak Prabowo nggak ke luar negeri lagi,” ujar Mahfud.
Ia mengatakan, sejak setelah Ramadan hingga saat ini, Prabowo dinilainya tidak lagi sesering sebelumnya melakukan perjalanan ke luar negeri.
“Saya nggak tahu sesudah bulan puasa sampai sekarang itu kayaknya nggak pernah lagi, kan kritiknya tuh saat-saat bulan puasa,” katanya.
Mahfud Soroti Gaya Pidato Prabowo
Selain aktivitas perjalanan luar negeri, Mahfud juga menilai terdapat perubahan dalam gaya komunikasi Presiden Prabowo, terutama ketika menyampaikan pidato di hadapan publik.
Menurut Mahfud, Prabowo kini terlihat lebih berhati-hati dalam melakukan improvisasi saat berpidato.
Ia menilai improvisasi sebenarnya merupakan hal yang wajar dilakukan pejabat publik. Namun, jika dilakukan terlalu sering, hal tersebut dinilai dapat berdampak terhadap citra dan kewibawaan seorang Presiden.
Mahfud menyatakan bahwa, karena pernyataannya, berpotensi dipotong, disebarluaskan, kemudian dijadikan bahan meme maupun parodi.
“Improvisasinya ada tapi sedikit-sedikit, tidak terlalu banyak improvisasi karena itu menjadi ketawaan orang akhirnya, bukan menambah kewibawaan, bukan menambah keakraban,” ujar Mahfud.
Mahfud menilai perubahan gaya komunikasi tersebut dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, cara seorang Presiden berkomunikasi di hadapan publik bukan hanya berkaitan dengan penyampaian pesan, tetapi juga menyangkut citra, wibawa, dan persepsi masyarakat terhadap kepala negara.
Mahfud Soroti Penataan Program MBG
Mahfud juga menyoroti perkembangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai program tersebut mulai mengalami sejumlah penataan dalam pelaksanaannya.
Mahfud mengakui masih terdapat persoalan dalam pelaksanaan MBG. Namun, ia melihat adanya perubahan kebijakan yang menurutnya mengarah pada perbaikan.
Ia berharap penataan tersebut dapat terus dilakukan agar pelaksanaan program MBG semakin efektif dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.***
Penulis : Gr