Fotokopi e-KTP Berisiko Pidana, Bisa Terancam 5 Tahun Penjara dan Denda Rp5 Miliar

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 09:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fotokopi e-KTP berisiko pidana, bisa terancam 5 tahun penjara dan denda Rp5 miliar.

Fotokopi e-KTP berisiko pidana, bisa terancam 5 tahun penjara dan denda Rp5 miliar.

 

DN.com – Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri menegaskan bahwa tindakan memfotokopi, memperbanyak, atau menyalahgunakan data e-KTP secara melawan hukum dapat berujung pidana.

Penegasan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Senin (11/5/20

Dalam Pasal 65 dan Pasal 67 disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan data pribadi, termasuk Nomor Induk Kependudukan (NIK) tanpa hak dan untuk kepentingan tertentu yang merugikan pemilik data, dapat dipidana penjara maksimal 5 tahun dan denda hingga Rp5 miliar.

Baca Juga:  Kejagung Ungkap Dugaan Korupsi MBG Sebabkan Pemborosan Rp10,5 Triliun, Minta Praperadilan Lodewyk Ditolak

Dirjen Dukcapil menyampaikan, praktik fotokopi e-KTP seharusnya tidak lagi diperlukan.

Pasalnya, e-KTP telah dilengkapi cip elektronik yang mampu menyimpan data secara aman dan dapat diverifikasi menggunakan perangkat card reader resmi.

Selain berpotensi melanggar hukum, penyebaran fotokopi identitas juga membuka risiko kebocoran data pribadi.

Data tersebut bisa disalahgunakan, seperti untuk pengajuan pinjaman ilegal, pemalsuan identitas, hingga tindak penipuan.

Baca Juga:  Daftar Lengkap Menteri dan Pimpinan Lembaga, Presiden Prabowo Subianto Umumkan Kabinet Merah Putih

Karena itu, Kementerian Dalam Negeri mengimbau instansi pemerintah maupun swasta seperti hotel, rumah sakit, dan perkantoran agar tidak lagi meminta fotokopi e-KTP.

Sebagai gantinya, verifikasi identitas disarankan menggunakan sistem digital melalui card reader.

Imbauan ini sebenarnya telah disampaikan sejak 2013 melalui Surat Edaran Mendagri Nomor 471.13/1826/SJ, dan kembali ditegaskan pada 2026 seiring penguatan regulasi perlindungan data pribadi.

Baca Juga:  Pengadaan Motor Listrik Program MBG Disorot, KPK Ingatkan Potensi Risiko Korupsi

Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati dan tidak sembarangan menyerahkan salinan identitas kepada pihak yang tidak jelas kewenangannya, guna mencegah penyalahgunaan data pribadi.***

 

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Jangan Salah Pilih! Ini 5 Ciri Calon Kepala Desa yang Layak Dipercaya
Seleksi Calon Hakim MA 2026 Dibuka, Simak Syarat Usia, TOEFL hingga Kuota Khusus Papua dan Aceh
Daftar Bansos Kini Cukup Pakai NIK KTP, Pemerintah Percepat Verifikasi Penerima
Empat Pelajar Diduga Terlibat Pengeroyokan di Garut Diamankan Resmob Polda Jabar
KPK Panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Terkait Kasus Dugaan Suap HGB Summarecon
Uji Aturan IKN, Tiga Pemohon Minta MK Tegaskan Status Nusantara sebagai Ibu Kota Negara
27.099 Manajer Kopdes Merah Putih Teken Surat Penawaran, 1.051 Dilaporkan Mundur
Kapolri Mutasi 19 Kapolda, Irjen Hengki Resmi Gantikan Pipit Rismanto di Jabar

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Jangan Salah Pilih! Ini 5 Ciri Calon Kepala Desa yang Layak Dipercaya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Seleksi Calon Hakim MA 2026 Dibuka, Simak Syarat Usia, TOEFL hingga Kuota Khusus Papua dan Aceh

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Daftar Bansos Kini Cukup Pakai NIK KTP, Pemerintah Percepat Verifikasi Penerima

Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:41 WIB

Empat Pelajar Diduga Terlibat Pengeroyokan di Garut Diamankan Resmob Polda Jabar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:12 WIB

Uji Aturan IKN, Tiga Pemohon Minta MK Tegaskan Status Nusantara sebagai Ibu Kota Negara

Berita Terbaru