DN.com – Kemacetan di Kota Bandung kembali menjadi sorotan setelah Wali Kota Muhammad Farhan mengungkap sejumlah faktor utama penyebab padatnya lalu lintas di ibu kota Provinsi Jawa Barat tersebut.
Farhan menilai tingginya kepemilikan kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, serta belum optimalnya sistem transportasi umum menjadi penyebab utama kemacetan yang terus memburuk dari tahun ke tahun.
Menurutnya, hampir seluruh warga Bandung kini memiliki kendaraan pribadi. Kondisi ini diperparah oleh layanan transportasi umum yang dinilai belum layak dan kurang diminati masyarakat.
Baca Juga:
Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 2 Subang Berlangsung Khidmat, Apresiasi Prestasi dan Kreativitas Siswa
Bapenda Subang Menang Sengketa PBB Lawan Dua Perusahaan Pelabuhan Patimban
Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif
“Bandung macet karena banyak warga membeli kendaraan pribadi, sementara transportasi umum masih sangat kurang. Senin (20/4/2026).
Ini fakta, jumlah penduduk sekitar 2,6 juta, sementara kendaraan pribadi berpelat D mencapai 2,3 juta unit,” ujarnya.
Selain itu, Farhan juga menyoroti sistem trayek yang masih diterapkan pada angkutan kota (angkot).
Ia menilai sistem tersebut sudah tidak relevan dan justru menghambat daya saing angkutan umum dibandingkan transportasi berbasis aplikasi.
Baca Juga:
Gempa M 7,7 Picu Tsunami, BMKG Catat Gelombang Masuk Daratan di Sejumlah Wilayah Timur Indonesia
As SDM Kapolri Tegaskan Seleksi Akpol 2026 Bersih, Tanpa Jalur Titipan
“Ke depan, strategi transportasi umum tidak lagi menggunakan sistem trayek,” katanya.
Ia menjelaskan, transportasi online seperti ojek dan taksi daring lebih diminati karena fleksibel dan tidak terikat jalur tetap.
Sementara itu, angkot yang masih bergantung pada trayek menjadi kurang kompetitif di tengah perubahan kebutuhan masyarakat.
Akibatnya, masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi berbasis kendaraan pribadi, yang pada akhirnya meningkatkan jumlah kendaraan di jalan dan memperparah kemacetan.
Baca Juga:
Skandal MBG Terbongkar: Rp1,03 Triliun Motor Listrik Fiktif, Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi di BGN
Panglima TNI Setujui Pengunduran Diri Mayjen Trenggono, Siap Fokus di BGN
Disorot karena Lokasi Terpencil, BPKP dan TNI Tinjau Koperasi Merah Putih di Kendal
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Farhan menegaskan akan mendorong perubahan besar dalam sistem transportasi umum di Bandung.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah menghapus sistem trayek dan menggantinya dengan skema berbasis carter agar angkot lebih fleksibel.
“Saya akan berjuang agar sistem trayek dibongkar total. Jika tetap menggunakan trayek, angkot tidak akan pernah bisa bersaing dengan ojek online maupun taksi online, karena mereka berbasis carter,” tegasnya.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik transportasi umum sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, sehingga kemacetan di Kota Bandung dapat ditekan secara bertahap.***
Penulis : Redaksi






