DN.com – Hendrik Irawan, pria yang viral setelah berjoget sambil memamerkan keuntungan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), akhirnya buka suara terkait polemik yang terjadi. Jumat (27/3/2026).
Hendrik diketahui merupakan mitra pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Ia mengungkapkan, video viral tersebut berdampak besar hingga berujung pada penutupan operasional SPPG miliknya oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Baca Juga:
Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 2 Subang Berlangsung Khidmat, Apresiasi Prestasi dan Kreativitas Siswa
Bapenda Subang Menang Sengketa PBB Lawan Dua Perusahaan Pelabuhan Patimban
Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif
Pernyataan itu disampaikannya melalui akun TikTok pribadinya, Hendrik Irawan MBG, yang juga ditayangkan ulang oleh kanal YouTube KompasTV.
“Perlu Anda ketahui, dengan hujatan dan cacian yang ada, SPPG kami akhirnya ditutup oleh Ibu Nanik dari Badan Gizi Nasional,” ujarnya.
Hendrik mengaku terkejut saat mengetahui dapur SPPG yang dikelolanya harus ditutup.
Ia tidak menyangka video tersebut akan menimbulkan dampak sebesar itu.
Baca Juga:
Gempa M 7,7 Picu Tsunami, BMKG Catat Gelombang Masuk Daratan di Sejumlah Wilayah Timur Indonesia
As SDM Kapolri Tegaskan Seleksi Akpol 2026 Bersih, Tanpa Jalur Titipan
“Saya kaget permasalahan ini jadi besar. Memang ini kesalahan saya, saya tidak mematuhi protokol.
Saya berjoget di ruangan kerja dan tidak menyangka akan seviral ini,” katanya.
Ia juga mengakui tindakannya terlalu berlebihan, namun tidak menyalahkan respons masyarakat di media sosial.
Lebih lanjut, Hendrik menyebut penutupan SPPG tersebut berdampak pada sekitar 150 relawan yang kini tidak dapat bekerja dan menghentikan produksi makanan hingga akhir Maret 2026.
Baca Juga:
Skandal MBG Terbongkar: Rp1,03 Triliun Motor Listrik Fiktif, Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi di BGN
Panglima TNI Setujui Pengunduran Diri Mayjen Trenggono, Siap Fokus di BGN
Disorot karena Lokasi Terpencil, BPKP dan TNI Tinjau Koperasi Merah Putih di Kendal
“Ada sekitar 150 relawan yang tidak akan bekerja dan tidak bisa produksi untuk tanggal 31 Maret.
Ini dampak dari tindakan saya yang terlalu frontal. Tapi saya tidak menyalahkan netizen,” tuturnya.
Ia pun mengaku prihatin terhadap nasib para relawan yang terdampak akibat penutupan tersebut.***
Penulis : Redaksi






