Deltanusantara.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memimpin apel pagi di Halaman Kantor Bupati Subang, pada Senin (23/06/2025).
Apel tersebut menjadi momen dimulainya program pendidikan karakter dan bela negara bagi 50 siswa tingkat SMP di Kabupaten Subang, yang akan mengikuti pelatihan khusus di Lanud Suryadarma Kalijati.
Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Peserta Didik dilakukan antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang dan Lanud Suryadarma Kalijati, serta disaksikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat.
Baca Juga:
Tinjau Layanan SPMB, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Imbau Orang Tua Siswa Tetap Tenang
338 KPM di Desa Kalitengah Terima Bantuan Sembako, Warga Bersyukur Terbantu
Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 2 Subang Berlangsung Khidmat, Apresiasi Prestasi dan Kreativitas Siswa
Dalam sambutannya Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti berbagai tantangan sosial dan moral yang tengah dihadapi bangsa Indonesia, khususnya terkait generasi muda.
Ia menilai bahwa generasi saat ini mulai kehilangan ikatan emosional dengan orang tua, akibat tingginya paparan gawai serta lemahnya pembinaan karakter sejak usia dini.
Gubernur Jawa Barat juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap arah masa depan bangsa, jika pola asuh dalam keluarga dan manajemen pemerintahan tidak segera mengalami transformasi yang mendasar.
“Orang tua kehilangan keterikatan emosional dengan anak karena gawai. Di negeri ini, kekayaan alamnya luar biasa, tapi terlalu banyak disandarkan pada struktur dan anggaran.
Baca Juga:
Bapenda Subang Menang Sengketa PBB Lawan Dua Perusahaan Pelabuhan Patimban
Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif
Pemerintah daerah harus belajar dari institusi yang lebih disiplin seperti Lanud Suryadarma. Lihat bagaimana lingkungan Lanud bisa tertata rapi meski anggarannya tidak besar. Itu karena manajemen yang benar,” tuturnya.
Kang Dedi Mulyadi juga mengkritisi struktur birokrasi pemerintahan yang dinilai terlalu banyak menyerap anggaran untuk pembiayaan struktur dan honorarium.
Sementara para pekerja lapangan, seperti petugas kebersihan dan pengangkut sampah, justru kurang mendapatkan perhatian yang layak.
Ia menyebutkan negara-negara seperti Vietnam, yang secara berani memangkas birokrasi untuk mendorong pembangunan.
Baca Juga:
Gempa M 7,7 Picu Tsunami, BMKG Catat Gelombang Masuk Daratan di Sejumlah Wilayah Timur Indonesia
As SDM Kapolri Tegaskan Seleksi Akpol 2026 Bersih, Tanpa Jalur Titipan
Skandal MBG Terbongkar: Rp1,03 Triliun Motor Listrik Fiktif, Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi di BGN
Kang Dedi Mulyadi mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mencintai tempat kerjanya.
Bukan semata karena tunjangan yang diterima, tetapi karena tempat kerja merupakan ladang rezeki.
Dalam arti yang lebih luas, tempat kita untuk mengabdi, memberi manfaat, dan menebar kebaikan bagi masyarakat,” tandasnya.
Ia bahkan menyebut dirinya sebagai contoh nyata, di mana setiap hari ia turun langsung memunguti sampah tanpa memperhitungkan jabatan atau imbalan.
Semua dilakukan semata-mata karena dorongan tanggung jawab moral dan keinginan untuk memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kalau tanah bisa berdo’a, mungkin sudah memohon agar manusia berhenti menyayat tubuhnya.
Penambangan liar, pembiaran moral yang rapuh, itu yang akan membuat generasi kita kehilangan masa depan.
Maka saya tidak ingin hanya menjadi pemimpin struktural. Saya terapkan pola kepemimpinan khusus, tidak bergantung APBD, tapi keberanian dan kolaborasi,” tegasnya.
Pada kesempatan itu juga. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berdialog dengan 50 siswa yang akan mengikuti program pendidikan karakter dan mengetahui latar belakang mereka, seperti tawuran, membolos sekolah, dan merokok.
Ia menekankan pentingnya kontrak moral antara sekolah dan orang tua, termasuk perlindungan hukum bagi guru dalam proses pembinaan dan pendidikan.***
Yuk! Baca artikel Deltanusantara.com lainnya di GoogleNews.
Editor : Gerry






