DN.com – Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah menilai keberhasilan Indonesia menghadapi disrupsi zaman di era digital bergantung pada perpaduan antara kekuasaan (power) dan kapasitas intelektual (ilmu). Dikutip Minggu (23/8/2026).
Hal itu disampaikan Fahri dalam Kajian Wawasan Kebangsaan bertajuk “Memahami Statecraft: Mengelola Negara di Era AI”, pada Jumat (21/8/2026) malam.
Fahri menegaskan, kekuasaan tanpa ilmu dapat menjadi ancaman, sementara ilmu tanpa kekuasaan akan kehilangan daya untuk mewujudkan perubahan.
“Kekuasaan tanpa ilmu sangat berbahaya, sedangkan ilmu tanpa kekuasaan menjadi lemah dan tidak berdaya.
Masa depan Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang bertindak layaknya philosopher king, memiliki otoritas kekuasaan yang efektif sekaligus kebijaksanaan berbasis ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Menurut Fahri, tantangan masa depan menuntut model kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan kapasitas intelektual dengan otoritas kekuasaan. Kedua unsur tersebut, kata dia, tidak seharusnya berjalan secara terpisah.
“Ke depan, dua hal ini tidak boleh terpisah. Kita tidak ingin orang berkuasa tapi tidak berilmu, atau orang berilmu tapi lemah tanpa kekuasaan.
Kekuasaan tanpa ilmu akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa dan kemanusiaan,” ujarnya.
Fahri juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap statecraft atau seni mengelola negara di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Ia menjelaskan, statecraft merupakan kemampuan komprehensif seorang pemimpin dalam mengorkestrasi berbagai elemen negara, mulai dari rakyat, wilayah, hingga struktur kekuasaan dan pemerintahan.
Konsep tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari nilai-nilai kenegarawanan (statesmanship).
“Politisi hanya berpikir tentang pemilu berikutnya, sementara kalau negarawan berpikir tentang generasi berikutnya,” kata Fahri, yang pernah menjabat Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan politik jangka pendek, tetapi juga memiliki visi lintas generasi untuk menghadapi perubahan teknologi dan tantangan global.***
Penulis : Gr