DN.com – Peringatan mengejutkan dilontarkan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra. Dikutip Senin (25/5/2026).
Dalam sebuah forum nasional di Jakarta, Yusril secara blak-blakan menyebut bahwa Indonesia berpotensi menjadi target operasi militer Amerika Serikat (AS) setelah AS sebelumnya melancarkan aksinya di Venezuela dan membidik Greenland yang kaya akan sumber daya mineral.
Pernyataan itu disampaikan Yusril saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk “Tantangan Regulasi dalam Menghadapi Gig Economy dan Artificial Intelligence” pada Selasa, 19 Mei 2026, di Jakarta.
Baca Juga:
Golkar Desak Dana MBG Tak Ganggu Anggaran Pendidikan, Mekeng Siap Surati Presiden Prabowo
Polisi Ungkap Penipuan Penjualan Titik SPPG di Jabar, Kerugian Capai Rp1,9 Miliar
Di hadapan para akademisi dan praktisi hukum, Yusril menyoroti meningkatnya persaingan global dalam memperebutkan sumber energi dan mineral strategis dunia.
Menurut Yusril, AS secara agresif tengah mengamankan pasokan sumber daya alam yang krusial bagi industri masa depan.
Setelah mengintervensi Venezuela dan membidik Greenland, fokus negara adidaya itu dinilai mulai bergeser ke kawasan Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai salah satu sasaran potensial.
“Target selain Greenland, negara mana? Ya ini (Indonesia) yang dikejar,” tegas Yusril dengan lantang dalam sambutannya, seperti dikutip dari video resmi seminar tersebut.
Baca Juga:
Fakta Persidangan Terungkap: Bukti CCTV dan Temuan INAFIS Perkuat Peran Terdakwa dalam Kasus Paoman
Usai Sukajadi-Cicadas, Penataan PKL Menyasar Monju, Pati Ukur hingga Ciroyom
Bandara Kertajati Berpotensi Jadi Pusat Perawatan Hercules Asia, Tawaran AS Masih Dikaji
Yusril menjelaskan bahwa kekayaan alam Indonesia tidak ubahnya dengan apa yang dimiliki Venezuela dan Greenland.
Indonesia memiliki cadangan nikel, tembaga, emas, bauksit, hingga jalur pelayaran penting dunia yang menjadi perhatian negara-negara besar.
Ia justru menegaskan bahwa AS tidak berminat menyerbu tetangga dekat Indonesia seperti Singapura atau Malaysia.
“Mengapa? Karena di sana tidak ada sumber daya yang mereka kejar seperti yang ada di Indonesia,” ujar Yusril.
Baca Juga:
Euforia Persib Juara, Dedi Mulyadi Turun ke Jalan hingga Umumkan Bonus Rp1 Miliar
Diduga Intimidasi Kuasa Hukum dan Anak di Bawah Umur, Oknum Polisi di Lamongan Disorot
Salah satu poin paling mencengangkan dari pernyataan Yusril adalah soal kedekatan geografis pangkalan militer AS di Guam dengan wilayah timur Indonesia.
Ia memaparkan bahwa jarak tempuh dari Guam menuju Papua hanya sekitar enam jam perjalanan dengan pesawat militer.***
Penulis : Redaksi






