Kirab Mahkota Binokasih Semarakkan Milangkala Tatar Sunda 2026 di Sumedang

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 17:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kirab Mahkota Binokasih akan menjadi agenda utama dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang digelar pada 8–9 Mei 2026 di Kabupaten Sumedang. Foto. Sumedang kab.go.id.

Kirab Mahkota Binokasih akan menjadi agenda utama dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang digelar pada 8–9 Mei 2026 di Kabupaten Sumedang. Foto. Sumedang kab.go.id.

 DN.com – Kirab Mahkota Binokasih akan menjadi agenda utama dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang digelar pada 8–9 Mei 2026 di Kabupaten Sumedang. Senin (27/4/2026).

Kegiatan ini akan dimulai dari Sumedang, kemudian dilanjutkan ke Ciamis, Bogor, dan Bandung.

Perhelatan tersebut menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Sunda sebagai fondasi pembangunan di Jawa Barat.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas kepercayaan dan dukungan dalam penyelenggaraan kirab tersebut.

Ia menuturkan, kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Tatar Sunda sekaligus Hari Jadi Sumedang, sehingga memiliki makna strategis dalam memperkuat identitas budaya daerah.

“Milangkala Tatar Sunda akan dimulai di Kabupaten Sumedang pada 8–9 Mei.

Kegiatan ini mensinergikan antara pemerintah provinsi dan Pemerintah Kabupaten Sumedang,” ujar Dony, Minggu  (26/4/2026). Dikutif Sumedangkab.go.id.

Ia menjelaskan, kirab Mahkota Binokasih memiliki nilai historis yang mendalam. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa di wilayah Jawa Barat pernah berdiri kerajaan besar seperti Kerajaan Padjadjaran serta Kerajaan Sumedang Larang.

Lebih lanjut, Dony menuturkan bahwa Mahkota Binokasih yang saat ini tersimpan di Keraton Sumedang Larang merupakan simbol kebesaran kerajaan sekaligus warisan budaya yang sangat berharga.

Nama “Binokasih” sendiri bermakna “Sumber Kasih Sayang”, yang mencerminkan nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Sunda.

Ia menegaskan, pelaksanaan kirab ini tidak hanya menjadi upaya pelestarian budaya, tetapi juga sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

Menurutnya, pemahaman terhadap perjalanan sejarah sangat penting sebagai bahan refleksi dalam menentukan arah masa depan.

“Peringatan hari jadi bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi cermin sejarah yang dapat dijadikan kompas kehidupan untuk masa depan,” pungkasnya.***

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Forkopimcam Sugio Gelar Rapat Mendesak, Libatkan Perguruan Silat Demi Jaga Kondusivitas Wilayah
Di Balik Rusaknya Jalan Sugio–Lamongan: Tambal Sulam Gagal, Warga Jadi Korban
Bukan Sekadar Hafal: Munaqosah MTs Menongo Uji Mental dan Integritas Santri
Hadiah untuk Guru: Antara Rasa Terima Kasih dan Risiko Gratifikasi
Kapolda Jabar Pimpin Lari Bersama, Dorong Budaya Hidup Sehat dan Soliditas Personel
Dedi Mulyadi Tantang Bongkar Praktik Jual Beli Kursi SPMB 2026: “Jangan Sebar Isu, Laporkan!”
Birokrasi KBB Dituding “Darurat Akut”, Isu Jual Beli Jabatan hingga Skandal Moral Memantik Desakan Aksi Radikal
Berani Tanpa Modal Uang, Sami’an Guncang Tradisi Mahar Politik dan Sentil Pengelolaan Tanah Ganjaran

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 08:01 WIB

Forkopimcam Sugio Gelar Rapat Mendesak, Libatkan Perguruan Silat Demi Jaga Kondusivitas Wilayah

Senin, 15 Juni 2026 - 22:50 WIB

Di Balik Rusaknya Jalan Sugio–Lamongan: Tambal Sulam Gagal, Warga Jadi Korban

Senin, 15 Juni 2026 - 13:07 WIB

Bukan Sekadar Hafal: Munaqosah MTs Menongo Uji Mental dan Integritas Santri

Minggu, 14 Juni 2026 - 18:40 WIB

Hadiah untuk Guru: Antara Rasa Terima Kasih dan Risiko Gratifikasi

Sabtu, 13 Juni 2026 - 21:15 WIB

Dedi Mulyadi Tantang Bongkar Praktik Jual Beli Kursi SPMB 2026: “Jangan Sebar Isu, Laporkan!”

Berita Terbaru