DN.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung berkapasitas 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg. Rabu (1/7/2026).
Kebijakan ini menjadi salah satu langkah pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang terus meningkat.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 1,8 hingga 1,9 juta ton.
Baca Juga:
Terbongkar! Sindikat Lowongan Kerja Palsu di Jabar Raup Rp801 Juta, Otaknya Kabur ke Kamboja
Pemkab Sumedang Verifikasi Status Lahan Sebelum Tertibkan PKL dan Bangunan Liar
Kekurangan pasokan tersebut selama ini dipenuhi melalui impor, sehingga membebani anggaran subsidi energi.
Sebagai solusi, pemerintah mulai mengembangkan tabung CNG 3 kg yang akan diperkenalkan secara bertahap kepada masyarakat.
Berikut tiga fakta penting mengenai program tersebut:
1. Harga Disamakan dengan LPG 3 Kg
Baca Juga:
Blunder Ao Tanaka Jadi Petaka, Jepang Tersingkir Dramatis Usai Dikalahkan Brasil
Dedi Mulyadi Buka Jalan Guru Belajar di Inggris, 10 Siswa Maung Dapat Beasiswa Kuliah Penuh
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memastikan harga jual tabung CNG 3 kg akan disetarakan dengan harga LPG 3 kg agar tidak menambah beban masyarakat.
Menurutnya, meski dijual dengan harga yang sama, penggunaan CNG tetap mampu mengurangi beban subsidi energi pemerintah hingga sekitar 30 persen.
“Simulasinya masih disamakan dengan harga LPG 3 kg. Dengan harga yang sama pun subsidi bisa turun sampai 30 persen,” ujar Laode di Gedung DPR, Jakarta.
2. Tahap Awal, Tabung CNG Diimpor dari China
Baca Juga:
Kapolda Jabar Rudi Setiawan Resmi Naik Pangkat Jadi Komjen Pol
Balik Nama Kendaraan Kini Lebih Mudah dan Murah, Tak Perlu Lagi Pinjam KTP Pemilik Lama
Untuk mendukung implementasi awal, pemerintah akan mengimpor sekitar 100 ribu tabung CNG 3 kg dari China.
Langkah ini ditempuh karena industri dalam negeri belum memiliki kemampuan memproduksi tabung CNG berteknologi tinggi.
Laode menjelaskan, impor tersebut hanya bersifat sementara sebagai tahap awal pengembangan program. Tabung CNG itu nantinya akan diberi nama “Tabung Merah Putih”.
“Teknologinya masih tinggi dan saat ini belum bisa diproduksi di dalam negeri. Karena itu, pada tahap awal kami mengimpor dari China,” kata Laode.
3. Mulai Diuji Coba pada Juli 2026
Kementerian ESDM telah menyiapkan 15 unit prototipe Tabung Merah Putih CNG 3 kg yang akan menjalani uji kelayakan di Lemigas pada Juli 2026.
Tabung tersebut menggunakan teknologi Tipe 4 dengan material berbahan serat (composite), yang dinilai lebih ringan dan memiliki standar keamanan tinggi.
Pengujian akan mencakup ketahanan tekanan, sistem katup (valve), serta aspek keselamatan penggunaan.
Jika seluruh tahapan uji dinyatakan memenuhi standar, distribusi kepada masyarakat akan dilakukan secara bertahap.
Pemerintah berencana memulai implementasi di kota-kota besar, khususnya di Pulau Jawa, yang telah memiliki jaringan pipa gas sehingga distribusi CNG dinilai lebih efisien dan ekonomis.
“Kami prioritaskan wilayah yang sudah terhubung jaringan pipa gas agar biaya distribusi lebih murah. Karena itu, tahap awal akan difokuskan di kota-kota besar di Pulau Jawa,” jelas Laode.***
Penulis : Redaksi






