DN.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan pembangunan underpass di kawasan Jalan Pasteur, tepatnya di sekitar Gerbang Tol Pasteur, sebagai upaya mengurai kemacetan di pintu masuk Kota Bandung.
Usulan tersebut muncul karena tingkat kemacetan di kawasan itu dinilai semakin parah, terutama pada akhir pekan.
Persimpangan dengan lampu lalu lintas di lokasi tersebut kerap menjadi pemicu antrean panjang kendaraan.
Baca Juga:
338 KPM di Desa Kalitengah Terima Bantuan Sembako, Warga Bersyukur Terbantu
Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 2 Subang Berlangsung Khidmat, Apresiasi Prestasi dan Kreativitas Siswa
Bapenda Subang Menang Sengketa PBB Lawan Dua Perusahaan Pelabuhan Patimban
Menurut Dedi, keberadaan traffic light di depan gerbang tol menyebabkan arus kendaraan dari arah tol menuju pusat kota tidak berjalan lancar, khususnya saat volume kendaraan meningkat.
“Setiap Jumat sampai Minggu, Bandung pasti macet di Pasteur. Problemnya ada perempatan dengan traffic light di depan gerbang tol.
Kalau akhir pekan, antreannya panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).
Dengan pembangunan underpass, kendaraan dari arah tol diharapkan dapat langsung mengalir menuju pusat kota tanpa harus berhenti di lampu merah, sehingga kemacetan bisa berkurang secara signifikan.
Baca Juga:
Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif
Gempa M 7,7 Picu Tsunami, BMKG Catat Gelombang Masuk Daratan di Sejumlah Wilayah Timur Indonesia
Evaluasi Sistem Lampu Lalu Lintas
Selain pembangunan underpass, Dedi juga menyoroti pentingnya pembenahan sistem pengaturan lampu lalu lintas di seluruh wilayah Kota Bandung.
Ia menilai pengelolaannya saat ini belum optimal dan perlu evaluasi menyeluruh.
Dedi telah meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bandung dalam memperbaiki sistem tersebut.
Baca Juga:
As SDM Kapolri Tegaskan Seleksi Akpol 2026 Bersih, Tanpa Jalur Titipan
Skandal MBG Terbongkar: Rp1,03 Triliun Motor Listrik Fiktif, Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi di BGN
Panglima TNI Setujui Pengunduran Diri Mayjen Trenggono, Siap Fokus di BGN
“Saya sudah minta Bappeda koordinasi dengan Pemkot Bandung. Traffic light di Kota Bandung ini belum tertata dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan semakin kompleks karena masih terdapat lampu lalu lintas yang diatur secara manual, sehingga tidak mampu menyesuaikan kondisi lalu lintas di lapangan secara dinamis.
Menurutnya, sebagai kota besar, Bandung seharusnya sudah menerapkan sistem lampu lalu lintas yang terintegrasi dan mampu merespons kondisi lalu lintas secara real time.
“Ini pusat kota, harus segera dikonektivitasikan supaya pengaturannya lebih efektif,” tambahnya.
Dedi juga menilai tidak semua wilayah membutuhkan lampu lalu lintas. Di beberapa titik dengan volume kendaraan rendah, keberadaan lampu merah justru dapat menghambat kelancaran arus kendaraan.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, di mana pengurangan lampu lalu lintas di sejumlah persimpangan justru membuat arus kendaraan lebih lancar.
“Traffic light itu untuk mengatur kemacetan. Tapi di daerah dengan kendaraan sedikit, justru bisa menjadi penghambat,” jelasnya.
Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap penggunaan dan keterhubungan lampu lalu lintas di Kota Bandung, agar arus kendaraan lebih lancar dan tidak menumpuk di titik-titik tertentu.***
Penulis : Redaksi






