DN.com Lamongan – Kondisi ruas Jalan Raya Sugio-Lamongan kian memprihatinkan. Jalur vital yang menghubungkan pusat Kabupaten Lamongan dengan Kecamatan Sugio, Kedungpring hingga perbatasan Tuban dan Jombang ini kini berubah menjadi lintasan berbahaya penuh lubang.
Kerusakan terjadi di sejumlah titik dengan kondisi yang tergolong parah. Aspal mengelupas, permukaan jalan tidak rata, hingga lubang besar menganga yang kerap tertutup genangan air saat hujan.
Situasi ini memicu keluhan keras dari pengguna jalan, mulai dari pengendara motor, mobil pribadi, hingga sopir truk pengangkut hasil pertanian. Senin (15/6/2026).
Berdasarkan pantauan di lapangan, sedikitnya terdapat 12 titik kerusakan berat sepanjang kurang lebih 7 kilometer.
Baca Juga:
Dari Lapangan Desa ke Mimpi Besar: SSB Bintang Pratama Resmi Dibuka di Kalihurip
Bukan Sekadar Hafal: Munaqosah MTs Menongo Uji Mental dan Integritas Santri
Hadiah untuk Guru: Antara Rasa Terima Kasih dan Risiko Gratifikasi
Titik-titik tersebut tersebar di wilayah Desa Sumberaji, Sekarbagus, Siwalanrejo, hingga Sumberagung.
Selain itu, minimnya lampu penerangan jalan semakin menambah kengerian, terutama saat malam hari.

Risiko kecelakaan pun terus membayangi para pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua yang seolah harus bertaruh nyawa setiap kali melintas.
Diameter lubang bervariasi antara 50 hingga 120 sentimeter dengan kedalaman mencapai 30 sentimeter cukup untuk membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Baca Juga:
Kapolda Jabar Pimpin Lari Bersama, Dorong Budaya Hidup Sehat dan Soliditas Personel
Anggaran PU Dipangkas 80%, Kebijakan Efisiensi Dinilai Ancam Proyek Infrastruktur Nasional
Dedi Mulyadi Tantang Bongkar Praktik Jual Beli Kursi SPMB 2026: “Jangan Sebar Isu, Laporkan!”
Keluhan masyarakat memuncak pada Jumat, 12 Juni 2026, sejak pagi hingga sore hari. Warga menyebut kerusakan mulai memburuk sejak awal musim hujan Oktober 2025 dan hingga kini belum mendapat penanganan maksimal.
Beberapa titik paling rawan berada di Dusun Mbulak (Desa Sumberaji), Dusun Gampang dan Wonosari (Desa Sekarbagus), area pintu masuk Desa Siwalanrejo, serta jalur persawahan antara Sukodadi–Sugio.
Kerusakan diduga dipicu oleh tingginya beban kendaraan berat yang melintas setiap hari, ditambah buruknya sistem drainase yang menyebabkan air merembes ke struktur tanah di bawah aspal.
Tambalan yang dilakukan sebelumnya pun dinilai hanya bersifat sementara dan tidak bertahan lama.
Baca Juga:
Pengadaan Motor Listrik untuk MBG Disorot, Pemerintah Pastikan Proyek Berlanjut
Berani Tanpa Modal Uang, Sami’an Guncang Tradisi Mahar Politik dan Sentil Pengelolaan Tanah Ganjaran
Akibatnya, pengguna jalan terpaksa melaju sangat pelan, saling menghindari lubang, dan meningkatkan kewaspadaan, terutama pada malam hari.
Insiden kecelakaan ringan seperti pengendara motor terjatuh hingga ban pecah pun kerap terjadi.
“Kalau malam lubang tidak kelihatan jelas, risikonya besar. Saya sudah dua kali bocor ban di sini,” ujar Deny (32), pengemudi ojek daring yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Hal senada disampaikan Aman (45), pedagang hasil tani. Ia mengaku kerusakan jalan berdampak langsung pada biaya operasional.
“Servis kendaraan jadi lebih sering, pengiriman juga terlambat karena harus ekstra hati-hati,” katanya.
Sementara itu, Sami’an, warga Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, mengaku harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari saat berangkat kerja. Ia berharap pemerintah segera turun tangan sebelum jatuh korban lebih banyak.
Sejauh ini, perbaikan yang dilakukan masih sebatas tambalan aspal yang hanya bertahan satu hingga dua minggu sebelum kembali rusak.
Kondisi ini memicu kekecewaan warga yang menuntut perbaikan total, bahkan mengusulkan pembangunan jalan beton agar lebih tahan lama.
Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Lamongan menyatakan bahwa ruas jalan tersebut telah masuk dalam prioritas Program Jamula (Jalan Mantap dan Alus Lamongan) tahun 2026.
Program ini disebut memiliki alokasi anggaran sebesar Rp100 miliar untuk rekonstruksi 56 ruas jalan, termasuk jalur Sugio–Lamongan yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada pertengahan Juli mendatang.
Sementara menunggu realisasi perbaikan, pihak kepolisian dari Polsek Sugio dan Sukodadi terus melakukan pengaturan lalu lintas, terutama saat hujan dan malam hari, guna meminimalisir risiko kecelakaan.
Namun bagi masyarakat, janji saja tidak cukup. Jalan Sugio–Lamongan bukan sekadar akses penghubung, melainkan urat nadi ekonomi daerah.
Tanpa perbaikan nyata, kerusakan ini bukan hanya menghambat mobilitas, tetapi juga mengancam keselamatan dan kesejahteraan warga.
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Karnoto






