DN.com – Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia akan menghentikan impor solar mulai 1 Juli 2026.
Kebijakan ini seiring dengan penerapan program biodiesel 50 persen (B50) berbasis kelapa sawit. Dikutif Selasa (21/4/2026).
“Solar kita tidak impor lagi. Tahun 2026 pada 1 Juli kita stop, B50 masuk,” ujar Amran saat menghadiri kegiatan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, pada Minggu (19/4/).
Baca Juga:
Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 2 Subang Berlangsung Khidmat, Apresiasi Prestasi dan Kreativitas Siswa
Bapenda Subang Menang Sengketa PBB Lawan Dua Perusahaan Pelabuhan Patimban
Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional dengan memanfaatkan komoditas kelapa sawit sebagai bahan bakar alternatif.
Amran menjelaskan, kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai sumber energi masa depan. Selain diolah menjadi solar, sawit juga dapat dikembangkan menjadi bensin dan etanol yang saat ini tengah dipercepat proses pengembangannya.
“Ini energi masa depan Indonesia. Karena sumbernya dari sawit. Sawit bisa jadi solar, juga bisa jadi bensin,” ujarnya.
Lebih lanjut, pemerintah tengah menyiapkan kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) untuk pengembangan bensin berbasis sawit dalam skala kecil sebelum diperluas ke tahap industri.
Baca Juga:
Gempa M 7,7 Picu Tsunami, BMKG Catat Gelombang Masuk Daratan di Sejumlah Wilayah Timur Indonesia
As SDM Kapolri Tegaskan Seleksi Akpol 2026 Bersih, Tanpa Jalur Titipan
“Kalau ini berhasil, kita kembangkan ke skala besar. Jadi masa depan Indonesia cerah,” tambahnya.
Dalam kunjungan tersebut, Amran juga meninjau sejumlah inovasi teknologi karya ITS, salah satunya traktor listrik yang dinilai lebih hemat dan efisien. Kementerian Pertanian bahkan langsung memesan 10 unit untuk uji coba.
Menurutnya, traktor listrik tersebut memiliki harga lebih terjangkau dibandingkan traktor konvensional, serta tidak menggunakan bahan bakar solar melainkan energi listrik.
“Traktor ini harganya sekitar separuh dari yang biasa, lebih efektif, dan tidak menggunakan solar, tetapi listrik. Ini tentu sangat hemat,” jelasnya.
Baca Juga:
Skandal MBG Terbongkar: Rp1,03 Triliun Motor Listrik Fiktif, Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi di BGN
Panglima TNI Setujui Pengunduran Diri Mayjen Trenggono, Siap Fokus di BGN
Disorot karena Lokasi Terpencil, BPKP dan TNI Tinjau Koperasi Merah Putih di Kendal
Diketahui, Amran hadir di Surabaya untuk memberikan pidato kunci (keynote speech) pada wisuda ke-133 program doktor, magister, dan profesi insinyur di Grha ITS.***
Penulis : Redaksi






