DN.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri apel pagi di Gedung Sate, pada acara silaturahmi Syawal 1447 Hijriah. Rabu (1/4/2026).
Pada kesempatan tersebut, Dedi menegaskan visi kepemimpinan baru yang tidak konvensional untuk masa depan Jawa Barat.
Ia menyoroti budaya kerja di lingkungan pemerintahan yang dinilai terlalu kaku dan lebih mengutamakan gelar dibandingkan kemampuan teknis di lapangan.
Sebagai bentuk gebrakan, Dedi Mulyadi berencana memprioritaskan rekrutmen tenaga teknis lapangan.
Bahkan membuka peluang bagi lulusan sekolah dasar (SD) yang memiliki keterampilan praktis.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga melabeli dirinya sebagai “Gubernur Pinggiran”.
Ia menegaskan komitmennya untuk keluar dari batas-batas formal kantor dan hadir langsung di tengah masyarakat mulai dari bantaran sungai, pesisir pantai, hingga kawasan hutan guna menyerap kebutuhan riil warga.
Komitmen itu, menurutnya, sejalan dengan filosofi manajemen Sunda “Pok Pek Prak”, yang menekankan kerja nyata dibandingkan sekadar wacana.
Dedi mendorong pendekatan pembangunan yang lebih mengutamakan aksi teknis daripada diskusi akademis yang terlalu teoritis.
Ia mencontohkan sektor pariwisata, di mana masyarakat tidak membutuhkan kajian panjang, melainkan penataan kawasan yang menarik secara visual dengan sentuhan ikon lokal, seperti penggunaan material injuk.
Menurutnya, strategi tersebut terbukti efektif. Masyarakat kini berperan sebagai “agen promosi” gratis melalui media sosial.
“Hari ini pemerintah daerah tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mempromosikan keberhasilan pembangunan.
Justru masyarakat yang menceritakannya, bahkan mereka bisa mendapatkan penghasilan sebagai content creator,” ujarnya. Pada Senin (30/3/2026) lalu.
Salah satu poin yang paling menyita perhatian adalah rencana kebutuhan tenaga teknis pada periode 2026–2027.
Dedi menekankan pentingnya pemerintah memprioritaskan tenaga lapangan yang benar-benar memahami kondisi riil.
Ia mencontohkan sektor pengelolaan air. Dalam empat tahun terakhir, Jawa Barat relatif tidak mengalami kemarau panjang, sehingga pengelolaan saluran air dan irigasi menjadi sangat krusial.
Namun demikian, Dedi menyayangkan pengelolaan irigasi saat ini dinilai mulai kehilangan “kultur” atau tradisi kerja lapangan yang kuat.
Hal inilah yang ingin ia kembalikan melalui kebijakan yang lebih berpihak pada tenaga teknis.***
Penulis : Redaksi