DN.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa cuaca panas yang sedang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia bukanlah gelombang panas (heatwave).
“Fenomena yang terjadi saat ini bukan gelombang panas, melainkan peningkatan suhu udara,” ujar Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani. Rabu (18/3/2026).
Dia menjelaskan bahwa kenaikan suhu masih dalam batas wajar karena Indonesia termasuk wilayah tropis.
Gelombang panas umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu sangat tinggi yang berlangsung beberapa hari berturut-turut.
Baca Juga:
Dedi Mulyadi Benahi Bandung: Target Kota Bersih, Terang, dan Bebas Macet
Polres Garut Bongkar Peredaran Sabu 197,8 Gram, Seorang Kurir Diamankan
Sumedang Berbenah di Usia 448 Tahun, Fokus Kesejahteraan dan Pembangunan Berkelanjutan
“Sementara di Indonesia variasi suhu relatif kecil dan pembentukan awan serta hujan masih cukup sering terjadi,” ucap Andri.
Pada periode Maret hingga Mei, suhu udara cenderung terasa lebih panas, dipengaruhi oleh posisi matahari yang berada di sekitar ekuator, berkurangnya tutupan awan pada siang hari, serta angin yang relatif lemah sehingga pemanasan permukaan menjadi lebih optimal.
Di wilayah perkotaan, panas terasa lebih intens akibat fenomena urban heat island, yang membuat kawasan terbangun menyimpan panas lebih lama.
Menurut BMKG, kondisi cuaca panas pada siang hari diperkirakan masih berlangsung beberapa waktu ke depan, terutama saat tutupan awan berkurang. Namun, potensi hujan lokal masih dapat terjadi pada siang hingga sore hari.
Baca Juga:
KPK Usulkan Reformasi Partai Politik: Ketua Umum Dibatasi Dua Periode, Pencalonan Wajib dari Kader
Pemerintah Matangkan Harga B50, Siap Berlaku Juli 2026
Mendagri Instruksikan Pembebasan Pajak Kendaraan Listrik, Gubernur Diminta Segera Tindaklanjuti
“Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari pada siang hari, serta terus memantau informasi cuaca resmi karena kondisi atmosfer saat ini masih dinamis,” jelas dia.
Pada 12-15 Maret 2026, BMKG mencatat suhu tinggi di beberapa wilayah: Jawa Timur (35 derajat Celsius), Jawa Barat (37,2 derajat Celsius), Kalimantan (36,4 derajat Celsius), dan Banten (36,2 derajat Celsius).
Peningkatan suhu terjadi seiring dengan pergeseran distribusi hujan ke wilayah Indonesia bagian timur, sehingga beberapa wilayah lain memiliki tutupan awan lebih sedikit dan penerimaan radiasi matahari lebih optimal.
Hal ini ditandai oleh anomali Outgoing Longwave Radiation positif yang menunjukkan pertumbuhan awan minim, serta gerak semu tahunan matahari yang semakin mendekati ekuator.
Baca Juga:
Bupati Sumedang Tegaskan Penataan Kabel Semrawut, Sumedang Targetkan Jadi Percontohan Nasional
Saldo Kas Pemprov Jabar Tembus Rp110,6 Miliar, Pajak Kendaraan Dominasi Penerimaan
Desa Cigadog Wakili Kecamatan Cisalak dalam Lomba Perpustakaan Tingkat Kabupaten Subang
Berdasarkan perkiraan 17-23 Maret 2026, cuaca Indonesia umumnya didominasi hujan ringan sampai sedang.
Beberapa provinsi perlu mengantisipasi hujan dengan intensitas sedang-lebat, antara lain Aceh, seluruh provinsi di Sumatera, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, seluruh provinsi di Kalimantan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.***
Penulis : Redaksi






