Bareskrim Bongkar Pencucian Uang Narkoba Rp124 Miliar, Transaksi Disamarkan sebagai Amal dan DP Mobil

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 April 2026 - 20:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Eko Hadi Santoso, menjelaskan bahwa sindikat menggunakan metode layering dengan memberi keterangan palsu pada setiap transaksi agar terkesan legal.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Eko Hadi Santoso, menjelaskan bahwa sindikat menggunakan metode layering dengan memberi keterangan palsu pada setiap transaksi agar terkesan legal.

 

DN.com – Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri mengungkap praktik pencucian uang dari jaringan narkoba yang melibatkan perputaran dana hingga ratusan miliar rupiah.

Uang hasil kejahatan tersebut ditampung melalui sejumlah rekening proxy yang digunakan untuk menyamarkan jejak transaksi.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Eko Hadi Santoso, menjelaskan bahwa sindikat menggunakan metode layering dengan memberi keterangan palsu pada setiap transaksi agar terkesan legal.

“Transaksi disamarkan seolah-olah sebagai jual beli kendaraan, seperti ‘DP BMW 2013’, ‘DP unit Venturer’, hingga diberi label ‘amal’ dan ‘cicilan utang’ untuk mengelabui aparat,” ujarnya dalam keterangan, Sabtu (18/4/2026).

Menurut Eko, penggunaan rekening proxy merupakan modus umum dalam jaringan narkoba untuk memutus hubungan antara bandar dan pembeli.

Baca Juga:  Bayar Pajak Kendaraan Kini Bisa via WhatsApp, Bapenda Jabar Dorong Kepatuhan Tanpa Antre

Dari hasil penyelidikan, ditemukan empat rekening utama yang digunakan untuk menampung hasil transaksi ilegal tersebut.

Secara keseluruhan, arus dana masuk pada keempat rekening tersebut mencapai Rp124.052.487.704,97 dari total 2.134 transaksi.

Dalam pengungkapan kasus ini, tim gabungan Subdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri bersama Satgas NIC yang dipimpin Kombes Handik Zusen dan Kombes Kevin Leleury berhasil mengamankan empat tersangka.

Mereka terdiri dari dua perempuan berinisial DEH (Tasikmalaya) dan L (Bekasi), serta dua pria berinisial TZR dan MR yang ditangkap di Aceh Timur.

Eko merinci, porsi terbesar aliran dana berada di rekening milik tersangka L, yakni mencapai Rp81,9 miliar dari 946 transaksi selama periode 1 Agustus 2024 hingga 31 Maret 2026.

Baca Juga:  Bareskrim Polri Bersama Polda Jabar Ungkap Keberadaan Laboratorium Narkotika di Buah Batu  Bandung

Dalam rekening tersebut ditemukan pola structuring, yaitu pemecahan transaksi dengan nominal berulang sebesar Rp99.999.999 sebanyak 445 kali guna menghindari deteksi otoritas keuangan.

“Tersangka L direkrut dengan imbalan Rp1 juta untuk membuka rekening dan menyerahkan akses ATM serta mobile banking,” jelasnya.

Sementara itu, rekening milik TZR mencatat aliran dana sebesar Rp35,1 miliar dari 426 transaksi dalam periode Oktober 2025 hingga Februari 2026.

Rekening ini digunakan langsung oleh pemasok utama sabu, Hendra Lukmanul Hakim, untuk menerima pembayaran dari perantara Andre Fernando.
Di sisi lain, rekening MR menampung dana sebesar Rp3,9 miliar dari 108 transaksi.

Rekening ini digunakan sebagai penampung awal dana pesanan narkoba dari para pembeli sebelum disalurkan ke pemasok.

Baca Juga:  Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif

Rekening tersebut diketahui dibeli sindikat seharga Rp5 juta, lengkap dengan kartu ATM dan perangkat pendukung.

Adapun rekening milik tersangka DEH mencatat aliran dana lebih dari Rp3 miliar dari 654 transaksi.

Rekening ini dikuasai oleh pengelola keuangan jaringan bernama Charles Bernado alias Charlie, yang mengatur operasional rekening penyamaran.

“Tersangka DEH menyerahkan identitasnya untuk pembuatan rekening secara daring karena desakan ekonomi, dengan imbalan Rp2 juta,” ungkap Eko.

Kasus ini menegaskan semakin kompleksnya modus pencucian uang dalam jaringan narkoba, yang tidak hanya memanfaatkan teknologi perbankan, tetapi juga melibatkan banyak pihak untuk menyamarkan asal-usul dana ilegal.***

Berita Terkait

PPPK Usia 35 Tahun ke Atas Minta Kesempatan Tes PNS, FOKAP: Asal Diberi Peluang
Prabowo Siapkan Penghematan Besar-besaran Lagi, Menkeu: Demi Kesejahteraan Rakyat
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Presiden Apresiasi Kinerja Kabinet Merah Putih
Pemerintah Uji Coba MBG Prasmanan di 66 SPPG, Pengawasan Dapur Diperketat dengan AI
Prabowo Reshuffle Kabinet Merah Putih, Lantik Tujuh Pejabat Baru di Istana Negara
KPK Tetapkan Tersangka Kasus OTT Dana Kebencanaan BNPB, Sita Uang Rp1,4 Miliar dan Emas
Jangan Salah Pilih! Ini 5 Ciri Calon Kepala Desa yang Layak Dipercaya
Seleksi Calon Hakim MA 2026 Dibuka, Simak Syarat Usia, TOEFL hingga Kuota Khusus Papua dan Aceh

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:32 WIB

PPPK Usia 35 Tahun ke Atas Minta Kesempatan Tes PNS, FOKAP: Asal Diberi Peluang

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Prabowo Siapkan Penghematan Besar-besaran Lagi, Menkeu: Demi Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 17:24 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Presiden Apresiasi Kinerja Kabinet Merah Putih

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Pemerintah Uji Coba MBG Prasmanan di 66 SPPG, Pengawasan Dapur Diperketat dengan AI

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Prabowo Reshuffle Kabinet Merah Putih, Lantik Tujuh Pejabat Baru di Istana Negara

Berita Terbaru