DN.com – Holding industri pertambangan MIND ID mengungkapkan perkembangan terbaru proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG).
Proyek strategis ini diharapkan mampu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih tinggi.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyampaikan bahwa pengembangan proyek coal to DME merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca Juga:
KPK Soroti Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis, Temukan 8 Celah Rawan Korupsi
Pajak Kendaraan Listrik Tak Lagi Gratis, Aturan Baru Berlaku Mulai April 2026
Operator Telekomunikasi Bantah Istilah Kuota Internet Hangus di Sidang MK
Proyek tersebut dijalankan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan memanfaatkan cadangan batu bara berkalori rendah.
Menurutnya, PTBA telah mengalokasikan sumber daya batu bara sebagai bahan baku sekaligus menyiapkan kawasan industri yang dibutuhkan untuk mendukung proyek tersebut.
Namun demikian, realisasi proyek masih memerlukan koordinasi lintas entitas yang terintegrasi, terutama dalam penyusunan skema pengembangan.
Selain itu, dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah dinilai sangat penting agar proyek DME dapat berjalan optimal dalam jangka panjang serta memberikan nilai tambah bagi negara.
Baca Juga:
Eks Dirut PGN Hendi Prio Didakwa Rugikan Negara Rp 15 Juta Dolar dalam Kasus Korupsi Gas
Polres Majalengka Ringkus 7 Pengedar Narkoba, Sita Sabu dan Ribuan Obat Keras
MIND ID juga menegaskan bahwa seluruh proyek hilirisasi dilakukan dengan memperhatikan kepatuhan terhadap regulasi, pengendalian dampak lingkungan, serta prinsip keberlanjutan sumber daya.
Sementara itu, Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menargetkan komersialisasi hilirisasi batu bara dapat mulai diinisiasi pada 2030.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.
PTBA sendiri akan fokus pada tiga sektor utama, yakni hilirisasi batu bara, penguatan infrastruktur dan logistik, serta pengembangan bisnis pembangkit listrik berbasis PLTU dan energi baru terbarukan (EBT).
Baca Juga:
Pemprov Jabar Kembali Buka Hibah dan Bansos untuk RKPD 2027, Fokus ke Kebutuhan Daerah
Dedi Mulyadi Usulkan Underpass di Pasteur, Solusi Atasi Kemacetan Pintu Masuk Bandung
KUR Perumahan Tanpa Jaminan di Bawah Rp100 Juta, Pemerintah Tawarkan Bunga Ringan 6 Persen per Tahun
Dalam proyek DME, PTBA direncanakan mengolah sekitar 6,9 juta ton batu bara kalori rendah per tahun untuk menghasilkan sekitar 1 juta ton DME.
Dalam skema tersebut, PTBA akan bertindak sebagai operator pabrik sekaligus pemasok batu bara, dengan menggandeng Pertamina sebagai off-taker dari produk DME.
Selain DME, PTBA juga mengembangkan proyek coal to synthetic natural gas (SNG) sebagai alternatif pasokan gas, khususnya untuk wilayah Sumatera Selatan dan Jawa bagian barat.
Dalam proyek ini, sekitar 9 juta ton batu bara kalori rendah akan dimanfaatkan setiap tahun dengan kapasitas produksi mencapai 240 BBTUD syngas.
Untuk pengembangannya, PTBA akan membentuk joint venture bersama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang akan menjadi off-taker penuh dari SNG yang dihasilkan.
Saat ini, kedua pihak telah menandatangani head of agreement dan akan melanjutkan ke tahap studi kelayakan bersama konsultan.***
Penulis : Redaksi






