DN.com – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan kematian seekor anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung bukan disebabkan oleh kelalaian perawatan, melainkan akibat infeksi virus yang ditularkan dari induknya. Kamis (26/3/2026).
Anak harimau bernama Hara itu dilaporkan mati pada usia 8 bulan pada Selasa (24/3/2026). Hara merupakan kembaran dari Huru. Keduanya lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan induk Sahrulkan dan Jelita.
Farhan menjelaskan, induk harimau tersebut merupakan carrier atau pembawa virus yang kemudian menularkan penyakit kepada anak-anaknya sejak lahir.
Baca Juga:
Tinjau Layanan SPMB, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Imbau Orang Tua Siswa Tetap Tenang
338 KPM di Desa Kalitengah Terima Bantuan Sembako, Warga Bersyukur Terbantu
Pelepasan Siswa Kelas IX MTsN 2 Subang Berlangsung Khidmat, Apresiasi Prestasi dan Kreativitas Siswa
Dari dua anak harimau yang terinfeksi, satu tidak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih menjalani perawatan intensif.
“Bukan karena tidak terawat, tapi karena virus yang dibawa induknya. Ini memang virus khas pada keluarga kucing besar,” ujar Farhan di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, pada Rabu (25/3/2026).
Ia mengungkapkan, virus yang menyerang adalah Feline Panleukopenia, yakni penyakit yang umum menyerang keluarga felin seperti harimau dan kucing.
Virus ini dapat menyebabkan penurunan drastis sel darah putih, sehingga membuat kondisi tubuh hewan menjadi sangat lemah.
Baca Juga:
Bapenda Subang Menang Sengketa PBB Lawan Dua Perusahaan Pelabuhan Patimban
Uji Materi di MK, Pemohon Minta Kata “Aparat” dalam KUHP-KUHAP Dihapus karena Dinilai Diskriminatif
Sebagai langkah penanganan, anak-anak harimau tersebut telah dipisahkan dari induknya sejak awal.
Induk diketahui tetap dalam kondisi sehat karena telah memiliki daya tahan terhadap virus, sementara anak-anaknya masih rentan.
Pemerintah Kota Bandung bersama tim dokter hewan terus melakukan pemantauan ketat terhadap satu anak harimau yang masih bertahan. Berdasarkan laporan terbaru, kondisinya mulai menunjukkan perbaikan.
“Diare sudah tidak ada, muntah juga berhenti, dan kondisinya lebih aktif dibandingkan hari sebelumnya. Makan juga sudah mulai masuk,” jelas Farhan.
Baca Juga:
Gempa M 7,7 Picu Tsunami, BMKG Catat Gelombang Masuk Daratan di Sejumlah Wilayah Timur Indonesia
As SDM Kapolri Tegaskan Seleksi Akpol 2026 Bersih, Tanpa Jalur Titipan
Skandal MBG Terbongkar: Rp1,03 Triliun Motor Listrik Fiktif, Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi di BGN
Penanganan medis dilakukan secara intensif oleh tim yang terdiri dari lima dokter hewan.
Pengobatan meliputi pemberian antibiotik, antiemetik (anti-muntah), cairan rehidrasi untuk mencegah dehidrasi, suplemen imun, serta antivirus.
Farhan menyebut, anak harimau tersebut telah melewati fase kritis selama 72 jam, yang menjadi indikator penting dalam proses pemulihan.
“Biasanya kalau sudah lewat fase kritis ini, peluang untuk terus membaik semakin besar. Tapi tetap harus dipantau secara intensif,” katanya.
Ia menegaskan tidak ada unsur penelantaran dalam kasus ini. Seluruh tenaga medis disebut telah siaga penuh sejak awal penanganan.
Ke depan, Farhan menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh dalam pengelolaan satwa, khususnya terkait pengawasan penyakit menular.
“Ini jadi pelajaran penting. Virus ini memang salah satu yang paling perlu diwaspadai di kebun binatang yang memiliki koleksi kucing besar,” ujarnya.
Pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kota, lanjut Farhan, akan memastikan kejadian serupa tidak terulang serta menjamin kesejahteraan satwa di kebun binatang tetap terjaga.
“Saya sangat prihatin dan sedih, tapi ini menjadi perhatian serius agar ke depan bisa kita antisipasi dengan lebih baik,” tutupnya.***
Penulis : Redaksi






