Anak Harimau Benggala Mati di Kebun Binatang Bandung, Wali Kota Pastikan Bukan karena Kelalaian

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 26 Maret 2026 - 16:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harimau bernama Hara dilaporkan mati pada usia 8 bulan, pada Selasa (24/3/2026). Hara merupakan kembaran dari Huru. (Dok. Foto Diskominfo Pemkot Bandung).

Harimau bernama Hara dilaporkan mati pada usia 8 bulan, pada Selasa (24/3/2026). Hara merupakan kembaran dari Huru. (Dok. Foto Diskominfo Pemkot Bandung).

 

DN.com – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan kematian seekor anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung bukan disebabkan oleh kelalaian perawatan, melainkan akibat infeksi virus yang ditularkan dari induknya. Kamis (26/3/2026).

Anak harimau bernama Hara itu dilaporkan mati pada usia 8 bulan pada Selasa (24/3/2026). Hara merupakan kembaran dari Huru. Keduanya lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan induk Sahrulkan dan Jelita.

Farhan menjelaskan, induk harimau tersebut merupakan carrier atau pembawa virus yang kemudian menularkan penyakit kepada anak-anaknya sejak lahir.

Dari dua anak harimau yang terinfeksi, satu tidak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih menjalani perawatan intensif.

“Bukan karena tidak terawat, tapi karena virus yang dibawa induknya. Ini memang virus khas pada keluarga kucing besar,” ujar Farhan di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, pada Rabu (25/3/2026).

Baca Juga:  Wali Kota Bandung Perbaiki 17 Ruas Jalan Wisata, Atasi Masalah Kotoran dan Bau Pesing

Ia mengungkapkan, virus yang menyerang adalah Feline Panleukopenia, yakni penyakit yang umum menyerang keluarga felin seperti harimau dan kucing.

Virus ini dapat menyebabkan penurunan drastis sel darah putih, sehingga membuat kondisi tubuh hewan menjadi sangat lemah.

Sebagai langkah penanganan, anak-anak harimau tersebut telah dipisahkan dari induknya sejak awal.

Induk diketahui tetap dalam kondisi sehat karena telah memiliki daya tahan terhadap virus, sementara anak-anaknya masih rentan.

Pemerintah Kota Bandung bersama tim dokter hewan terus melakukan pemantauan ketat terhadap satu anak harimau yang masih bertahan. Berdasarkan laporan terbaru, kondisinya mulai menunjukkan perbaikan.

Baca Juga:  Tegur Pengendara Berknalpot Bising Berujung Pengeroyokan, Gerak Cepat Polres Garut Amankan 21 Orang 

“Diare sudah tidak ada, muntah juga berhenti, dan kondisinya lebih aktif dibandingkan hari sebelumnya. Makan juga sudah mulai masuk,” jelas Farhan.

Penanganan medis dilakukan secara intensif oleh tim yang terdiri dari lima dokter hewan.

Pengobatan meliputi pemberian antibiotik, antiemetik (anti-muntah), cairan rehidrasi untuk mencegah dehidrasi, suplemen imun, serta antivirus.

Farhan menyebut, anak harimau tersebut telah melewati fase kritis selama 72 jam, yang menjadi indikator penting dalam proses pemulihan.

“Biasanya kalau sudah lewat fase kritis ini, peluang untuk terus membaik semakin besar. Tapi tetap harus dipantau secara intensif,” katanya.

Baca Juga:  Balik Nama Kendaraan Bekas Kini Gratis, Ini Daftar Biaya yang Tetap Harus Dibayar

Ia menegaskan tidak ada unsur penelantaran dalam kasus ini. Seluruh tenaga medis disebut telah siaga penuh sejak awal penanganan.

Ke depan, Farhan menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh dalam pengelolaan satwa, khususnya terkait pengawasan penyakit menular.

“Ini jadi pelajaran penting. Virus ini memang salah satu yang paling perlu diwaspadai di kebun binatang yang memiliki koleksi kucing besar,” ujarnya.

Pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kota, lanjut Farhan, akan memastikan kejadian serupa tidak terulang serta menjamin kesejahteraan satwa di kebun binatang tetap terjaga.

“Saya sangat prihatin dan sedih, tapi ini menjadi perhatian serius agar ke depan bisa kita antisipasi dengan lebih baik,” tutupnya.***

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Sasar Hiburan Malam di Subang, Tim Gabungan Gelar Tes Urine hingga Amankan Dua Pengedar Sabu
Kantongi Ratusan Butir Tramadol, Seorang Pria di Bogor Barat Diciduk Polisi Usai Dilaporkan Warga
Edi Askari Ajak Siswa MA Al-Istiqomah Pahami Demokrasi dan Kepemimpinan Berintegritas
Tamu Bisnis Mengaku Ditolak Masuk Klaster Elit di Bandung, Security Minta Surat dari Kepolisian
Pemprov Jabar Siapkan Pelatihan Berbasis SMK, Penuhi Kebutuhan 8.000 Pekerja VinFast Subang pada 2027
Brigjen Pol. Rachmad Iswan Nusi Mengemban Amanah Baru sebagai Wakapolda Jabar
Stadion Si Jalak Harupat Direnovasi 2027, Pemprov Jabar dan Pemkab Bandung Siapkan Standar Internasional
Irjen Pol. Hengki Resmi Pimpin Polda Jabar, Siap Lanjutkan Program dan Benahi Pekerjaan Rumah

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:50 WIB

Sasar Hiburan Malam di Subang, Tim Gabungan Gelar Tes Urine hingga Amankan Dua Pengedar Sabu

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:35 WIB

Kantongi Ratusan Butir Tramadol, Seorang Pria di Bogor Barat Diciduk Polisi Usai Dilaporkan Warga

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:59 WIB

Edi Askari Ajak Siswa MA Al-Istiqomah Pahami Demokrasi dan Kepemimpinan Berintegritas

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:38 WIB

Tamu Bisnis Mengaku Ditolak Masuk Klaster Elit di Bandung, Security Minta Surat dari Kepolisian

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Brigjen Pol. Rachmad Iswan Nusi Mengemban Amanah Baru sebagai Wakapolda Jabar

Berita Terbaru