DN.com – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mengeluhkan dana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar yang harus digunakan untuk membiayai operasional Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka. Padahal, bandara itu hanya melayani satu penerbangan saja. Rabu (7/1/2026).
“Beban utang kita tinggi. Betul. Satu dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional), kedua membiayai Kertajati, kita ngebiayain terus, hasilnya ga ada,” kata Kang Dedi Mulyadi (KDM) dalam video di akun Tiktoknya.
Dedi Mulyadi juga menyebutkan bahwa APBD Jabar juga tersedot untuk membayar utang pembangunan Masjid Raya Al Jabbar di Gedebage, Kota Bandung.
Baca Juga:
Dedi Mulyadi Benahi Bandung: Target Kota Bersih, Terang, dan Bebas Macet
Polres Garut Bongkar Peredaran Sabu 197,8 Gram, Seorang Kurir Diamankan
Sumedang Berbenah di Usia 448 Tahun, Fokus Kesejahteraan dan Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan masjid apung terbesar di Jabar itu terjadi pada era Gubernur M Ridwan Kamil alias Kang Emil.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar Dedi Mulyadi meluruskan utang yang harus ditanggung Pemprov Jabar.
“(Masjid) Al Jabbar Rp 45 (miliar) per tahun. (Bandara) Kertajati Rp 100 (miliar),” ucap Dedi.
Dedi Mulyadi mempertanyakan apakah pembiayaan Bandara Kertajati sebaiknya disetop. “Pertanyaan saya bisa nggak sih, karena kita ngebiayain terus gak ada hasilnya Kertajati setop dulu deh? Ya kita harus jujur Pak,” ucap KDM.
Baca Juga:
KPK Usulkan Reformasi Partai Politik: Ketua Umum Dibatasi Dua Periode, Pencalonan Wajib dari Kader
Pemerintah Matangkan Harga B50, Siap Berlaku Juli 2026
Mendagri Instruksikan Pembebasan Pajak Kendaraan Listrik, Gubernur Diminta Segera Tindaklanjuti
Dari Rp 100 miliar dana APBD Jabar, sekitar Rp 50 miliar digunakan untuk operasional dan layanan Bandara Kertajati. Padahal, hanya ada satu penerbangan komersial di sana. ***
Penulis : Gr






