Prof Ryaas Rasyid Nilai Pemerintahan Prabowo Sudah Gagal: Harus Dikoreksi

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof Ryaas menilai kondisi pemerintahan saat ini sudah masuk kategori gagal berdasarkan penilaiannya.

Prof Ryaas menilai kondisi pemerintahan saat ini sudah masuk kategori gagal berdasarkan penilaiannya.

 

DN.com – Pakar politik dan ilmu pemerintahan Prof Ryaas Rasyid menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan tanda-tanda kegagalan. Senin (14/9/2026).

Menurutnya, penilaian terhadap kinerja pemerintahan tidak harus menunggu hingga masa jabatan lima tahun berakhir.

Ryaas mengatakan pola kerja dan kinerja pemerintah sejak awal dapat menjadi indikator untuk membaca arah pemerintahan ke depan.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seorang ahli sepak bola yang mampu membaca kecenderungan hasil pertandingan dari jalannya permainan.

“Kalau begini terus iya (pemerintahan Prabowo akan gagal). Banyak faktor sebenarnya, dan itu publik sudah tahu,” ujar Ryaas dalam acara prodcast di Forum keadilan TV pada. Minggu (13/9/2026).

Menurut Ryaas, seorang ahli tidak perlu menunggu pertandingan selesai untuk melihat kemungkinan hasil akhirnya. Hal serupa, kata dia, dapat diterapkan dalam menilai jalannya pemerintahan.

“Saya ini kan ahli pemerintahan, ahli politik. Sama dengan kalau ahli sepak bola melihat pertandingan sepak bola itu tidak perlu menunggu sampai babak kedua selesai baru dia tahu siapa menang,” katanya.

Baca Juga:  Deklarasi Subang, Wujudkan Asta Cita Keenam, Dibutuhkan Kolaborasi Pemerintah dan Swasta

Ryaas bahkan menilai kondisi pemerintahan saat ini sudah masuk kategori gagal berdasarkan penilaiannya.

Ia menyebut diperlukan koreksi mendasar agar persoalan yang ada tidak berlanjut hingga akhir masa pemerintahan.

“Sekarangnya sudah gagal. Jadi kalau tidak dikoreksi, akan gagal terus sampai di ujung. Makanya harus dikoreksi. Dan dikoreksi ini tidak gampang,” ujar Ryaas.

Salah satu persoalan yang disorot Ryaas adalah adanya resistensi terhadap kritik. Menurutnya, pihak yang sedang berkuasa cenderung tidak mudah menerima kritik maupun masukan dari luar.

“Sehingga saya cepat saja menyimpulkan. Dan tidak mungkin lagi ditolong. Dia harus menolong dirinya sendiri,” katanya.

Ryaas juga mengkritik kinerja jajaran pemerintahan yang dinilainya belum menunjukkan hasil terukur. Ia menilai kerja tim pemerintahan belum terlihat optimal.

Baca Juga:  Bayar Pajak Kendaraan Lebih Mudah, Bapenda Jabar dan bank bjb Hadirkan Layanan bjb T-Samsat

“Kinerja pemerintahan rendah, timnya tidak bekerja dengan baik. Sekarang ini pemerintahan kita cuma ada presiden, timnya tidak kelihatan, tidak bekerja, tidak nampak prestasi yang bisa diukur,” tegasnya.

Kritik tersebut juga mencakup kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan. Ryaas menyoroti nilai tukar, kinerja ekspor, serta persoalan pengangguran yang menurutnya masih menjadi masalah serius.

“Ekonomi parah, tenaga lapangan kerja bahaya, dollar sampai sekarang sejak turun tidak pernah kembali.

Kinerja ekspor kita tidak sesuai dengan harapan, pengangguran luar biasa, impor terbaru kan ada 1 juta sarjana yang menganggur,” ujarnya.

Selain itu, Ryaas menyinggung pernyataan terkait warga Indonesia yang tidak puas dengan kondisi di dalam negeri dan dipersilakan pergi.

Menurutnya, narasi tersebut mencerminkan kepanikan dan ketidakmampuan dalam mengelola negara.

“Ini kan luar biasa, lalu isu-isu yang negatif yang muncul mengenai anjuran supaya orang-orang Indonesia yang tidak puas silakan pergi saja.

Baca Juga:  Mendag Budi Santoso Mengapresiasi Industri Hilir Teh Walini PTPN VIII Berhasil Menembus Pasar Internasional

Ini semua bentuk-bentuk dari kepanikan dan ketidakmampuan untuk mengelola negara secara baik,” katanya.

Ryaas kembali menegaskan bahwa perubahan harus dilakukan dari internal pemerintahan.

Ia menilai saran dan masukan dari pihak luar tidak akan cukup apabila tidak disertai kemauan untuk melakukan koreksi dari dalam.

“Jadi sampai saya menyimpulkan bahwa tidak mungkin lagi diperbaiki. Dia harus memperbaiki dirinya sendiri.

Siapa pun yang berusaha untuk memperbaiki dengan memberi saran, memberi nasihat, masukan, itu tidak akan berhasil,” tegasnya.

Ryaas menduga sulitnya kritik diterima juga berkaitan dengan tingkat kepercayaan diri pemerintah yang menurutnya terlalu tinggi.

Kondisi itu, kata dia, membuat masukan dari lingkungan sekitar maupun masyarakat sulit diterima.

“Ada resistensi yang kuat, pemerintahnya terlalu percaya diri atau mungkin pribadi presiden terlalu percaya diri sehingga sulit untuk masuk,” jelasnya.***

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Prabowo Reshuffle Kabinet, Suahasil Nazara Gantikan Purbaya sebagai Menkeu
Mahfud MD Usul Pengelolaan MBG Dialihkan ke Desa, Soroti Kontrak SPPG
Siswi Korban Dugaan Keracunan MBG Alami Gangguan Ingatan, DPR Desak BGN Beri Kompensasi
Dasco Terima Aspirasi Kepala Desa, Usulan Perpanjangan Masa Jabatan Mengemuka
RUU Perampasan Aset Dibahas, Akademisi FH UII Usulkan Istilah Penyitaan
Komisi III DPR Pastikan RUU Perampasan Aset Tak Jadi Celah Aparat Bertindak Sewenang-wenang
Prabowo Minta Warga Indonesia Siapkan Rekening Bank, BRI dan BSI 
Gus Ipul Ungkap 1.900 Pegawai Kemensos Terindikasi Judi Online, Transaksi Tembus Rp2 Miliar

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 19:47 WIB

Prof Ryaas Rasyid Nilai Pemerintahan Prabowo Sudah Gagal: Harus Dikoreksi

Senin, 14 September 2026 - 19:26 WIB

Prabowo Reshuffle Kabinet, Suahasil Nazara Gantikan Purbaya sebagai Menkeu

Sabtu, 12 September 2026 - 12:53 WIB

Mahfud MD Usul Pengelolaan MBG Dialihkan ke Desa, Soroti Kontrak SPPG

Jumat, 11 September 2026 - 20:54 WIB

Siswi Korban Dugaan Keracunan MBG Alami Gangguan Ingatan, DPR Desak BGN Beri Kompensasi

Kamis, 10 September 2026 - 21:40 WIB

Dasco Terima Aspirasi Kepala Desa, Usulan Perpanjangan Masa Jabatan Mengemuka

Berita Terbaru