DN.com – Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) membekali ribuan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan edukasi terkait pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong terciptanya ruang belajar yang aman, kondusif, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk perundungan (bullying) dan kekerasan seksual.
Edukasi tersebut dikemas melalui kegiatan sosialisasi yang digelar secara bauran dalam rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) ITB 2026 di Kampus ITB Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Direktur Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Jabar, Kombes Pol Rumi Untari.
Dalam materinya, Rumi menekankan pentingnya pemahaman aspek hukum bagi mahasiswa dalam membangun interaksi yang aman dan sehat di lingkungan kampus.
Mahasiswa juga diminta memahami batasan dalam berinteraksi serta berani menyuarakan jika menghadapi atau mengetahui adanya tindakan kekerasan.
“Pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus tidak hanya dilakukan setelah sebuah kasus terjadi, tetapi dimulai dari kemampuan mahasiswa mengenali batasan, membangun interaksi yang sehat, mengetahui kanal bantuan, serta berani mencari pertolongan atau melapor ke aparat penegak hukum ketika dibutuhkan,” ujar Rumi saat memberikan materi.
Secara terpisah, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan, menegaskan komitmen Polda Jabar dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang bersih dari perundungan dan kekerasan.
Menurut Hendra, keterlibatan kepolisian dalam memberikan edukasi di lingkungan kampus merupakan bagian dari upaya antisipatif dan preventif agar potensi kekerasan dapat dicegah sejak dini.
“Polda Jawa Barat berkomitmen untuk terus menyukseskan program Desk Stop Bullying serta pencegahan kekerasan di lingkungan kampus maupun sekolah.
Kami berharap melalui sosialisasi dan sinergi bersama ITB ini, potensi perundungan dan kekerasan sejak awal bisa dicegah dan diantisipasi sehingga tidak ada korban,” kata Hendra.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) ITB, Rr. Diah Asih Purwaningrum, menyambut baik kolaborasi antara ITB dan Polda Jabar.
Menurut Diah, mahasiswa baru ITB berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya, kebiasaan, dan nilai keluarga yang beragam.
Karena itu, diperlukan pemahaman bersama mengenai hukum dan etika dalam membangun interaksi di lingkungan kampus.
“Mahasiswa baru ITB datang dari berbagai pelosok negeri, dari Sabang sampai Merauke, membawa latar belakang budaya, kebiasaan, hingga nilai-nilai keluarga yang beragam.
Perbedaan ini merupakan kekayaan, namun jika tidak disertai pemahaman bersama mengenai batas interaksi di kampus, berpotensi memicu ketidakcocokan yang dapat mengarah pada tindakan kekerasan,” jelas Diah.
Diah menambahkan, kerja sama dengan Polda Jabar dan lembaga profesional seperti Ikatan Psikologi Klinis (IPK) menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan.
“Satgas PPK ITB membangun jejaring dengan berbagai pihak, termasuk Polda Jawa Barat dan Ikatan Psikologi Klinis.
Kolaborasi tersebut diperlukan karena pencegahan dan penanganan kekerasan membutuhkan dukungan lintas pihak, mulai dari lingkungan terdekat mahasiswa hingga tenaga profesional dan aparat penegak hukum,” terangnya.
Edukasi tersebut tidak hanya menyasar mahasiswa baru. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian PMB ITB 2026 itu juga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube ITB agar dapat diikuti para orang tua mahasiswa.
Ke depan, upaya membangun ekosistem kampus yang aman juga akan diperluas kepada masyarakat di sekitar kampus.
Edukasi akan menyasar pemilik indekos, pelaku usaha lokal, pengemudi transportasi daring, hingga pengelola kantin di kawasan Jatinangor.***
Penulis : Moh Asep
Editor : Redaksi