<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia - Deltanusantara.com</title>
	<atom:link href="https://deltanusantara.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://deltanusantara.com/tag/indonesia/</link>
	<description>Portal Berita Nasional</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Aug 2026 01:20:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://deltanusantara.com/wp-content/uploads/2026/08/cropped-20260810_145308-32x32.png</url>
	<title>Indonesia - Deltanusantara.com</title>
	<link>https://deltanusantara.com/tag/indonesia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fahri Hamzah: Kekuasaan Tanpa Ilmu Berbahaya, Indonesia Butuh Pemimpin Berwawasan di Era AI</title>
		<link>https://deltanusantara.com/fahri-hamzah-kekuasaan-tanpa-ilmu-berbahaya-indonesia-butuh-pemimpin-berwawasan-di-era-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 01:20:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Berwawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Era AI]]></category>
		<category><![CDATA[Fahri Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://deltanusantara.com/?p=12283</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; DN.com &#8211; Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah menilai keberhasilan Indonesia menghadapi disrupsi zaman di era digital bergantung pada perpaduan antara...</p>
<p>Artikel <a href="https://deltanusantara.com/fahri-hamzah-kekuasaan-tanpa-ilmu-berbahaya-indonesia-butuh-pemimpin-berwawasan-di-era-ai/">Fahri Hamzah: Kekuasaan Tanpa Ilmu Berbahaya, Indonesia Butuh Pemimpin Berwawasan di Era AI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://deltanusantara.com">Deltanusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DN.com</strong> &#8211; Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah menilai keberhasilan Indonesia menghadapi disrupsi zaman di era digital bergantung pada perpaduan antara kekuasaan (power) dan kapasitas intelektual (ilmu). Dikutip Minggu (23/8/2026).</p>
<p>Hal itu disampaikan Fahri dalam Kajian Wawasan Kebangsaan bertajuk “Memahami Statecraft: Mengelola Negara di Era AI”, pada Jumat (21/8/2026) malam.</p>
<p>Fahri menegaskan, kekuasaan tanpa ilmu dapat menjadi ancaman, sementara ilmu tanpa kekuasaan akan kehilangan daya untuk mewujudkan perubahan.</p>
<p>“Kekuasaan tanpa ilmu sangat berbahaya, sedangkan ilmu tanpa kekuasaan menjadi lemah dan tidak berdaya.</p>
<p>Masa depan Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang bertindak layaknya philosopher king, memiliki otoritas kekuasaan yang efektif sekaligus kebijaksanaan berbasis ilmu pengetahuan,” tegasnya.</p>
<p>Menurut Fahri, tantangan masa depan menuntut model kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan kapasitas intelektual dengan otoritas kekuasaan. Kedua unsur tersebut, kata dia, tidak seharusnya berjalan secara terpisah.</p>
<p>“Ke depan, dua hal ini tidak boleh terpisah. Kita tidak ingin orang berkuasa tapi tidak berilmu, atau orang berilmu tapi lemah tanpa kekuasaan.</p>
<p>Kekuasaan tanpa ilmu akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa dan kemanusiaan,” ujarnya.</p>
<p>Fahri juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap statecraft atau seni mengelola negara di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).</p>
<p>Ia menjelaskan, statecraft merupakan kemampuan komprehensif seorang pemimpin dalam mengorkestrasi berbagai elemen negara, mulai dari rakyat, wilayah, hingga struktur kekuasaan dan pemerintahan.</p>
<p>Konsep tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari nilai-nilai kenegarawanan (statesmanship).</p>
<p>“Politisi hanya berpikir tentang pemilu berikutnya, sementara kalau negarawan berpikir tentang generasi berikutnya,” kata Fahri, yang pernah menjabat Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019.</p>
<p>Menurutnya, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan politik jangka pendek, tetapi juga memiliki visi lintas generasi untuk menghadapi perubahan teknologi dan tantangan global.***</p>
<p>Artikel <a href="https://deltanusantara.com/fahri-hamzah-kekuasaan-tanpa-ilmu-berbahaya-indonesia-butuh-pemimpin-berwawasan-di-era-ai/">Fahri Hamzah: Kekuasaan Tanpa Ilmu Berbahaya, Indonesia Butuh Pemimpin Berwawasan di Era AI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://deltanusantara.com">Deltanusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
