<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cuaca panas - Deltanusantara.com</title>
	<atom:link href="https://deltanusantara.com/tag/cuaca-panas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://deltanusantara.com/tag/cuaca-panas/</link>
	<description>Portal Berita Nasional</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Mar 2026 01:51:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://deltanusantara.com/wp-content/uploads/2026/08/cropped-20260810_145308-32x32.png</url>
	<title>Cuaca panas - Deltanusantara.com</title>
	<link>https://deltanusantara.com/tag/cuaca-panas/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BMKG: Kondisi Panas di Indonesia Bukan Gelombang Panas, Melainkan Peningkatan Suhu Udara</title>
		<link>https://deltanusantara.com/bmkg-kondisi-panas-di-indonesia-bukan-gelombang-panas-melainkan-peningkatan-suhu-udara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 01:48:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrim]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca panas]]></category>
		<category><![CDATA[Peningkatan Suhu Udara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://deltanusantara.com/?p=10090</guid>

					<description><![CDATA[<p>DN.com &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa cuaca panas yang sedang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia bukanlah gelombang panas (heatwave). &#8220;Fenomena...</p>
<p>Artikel <a href="https://deltanusantara.com/bmkg-kondisi-panas-di-indonesia-bukan-gelombang-panas-melainkan-peningkatan-suhu-udara/">BMKG: Kondisi Panas di Indonesia Bukan Gelombang Panas, Melainkan Peningkatan Suhu Udara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://deltanusantara.com">Deltanusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DN.com</strong> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa cuaca panas yang sedang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia bukanlah gelombang panas (heatwave).</p>
<p>&#8220;Fenomena yang terjadi saat ini bukan gelombang panas, melainkan peningkatan suhu udara,&#8221; ujar Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani. Rabu (18/3/2026).</p>
<p>Dia menjelaskan bahwa kenaikan suhu masih dalam batas wajar karena Indonesia termasuk wilayah tropis.</p>
<p>Gelombang panas umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu sangat tinggi yang berlangsung beberapa hari berturut-turut.</p>
<p>&#8220;Sementara di Indonesia variasi suhu relatif kecil dan pembentukan awan serta hujan masih cukup sering terjadi,&#8221; ucap Andri.</p>
<p>Pada periode Maret hingga Mei, suhu udara cenderung terasa lebih panas, dipengaruhi oleh posisi matahari yang berada di sekitar ekuator, berkurangnya tutupan awan pada siang hari, serta angin yang relatif lemah sehingga pemanasan permukaan menjadi lebih optimal.</p>
<p>Di wilayah perkotaan, panas terasa lebih intens akibat fenomena urban heat island, yang membuat kawasan terbangun menyimpan panas lebih lama.</p>
<p>Menurut BMKG, kondisi cuaca panas pada siang hari diperkirakan masih berlangsung beberapa waktu ke depan, terutama saat tutupan awan berkurang. Namun, potensi hujan lokal masih dapat terjadi pada siang hingga sore hari.</p>
<p>&#8220;Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari pada siang hari, serta terus memantau informasi cuaca resmi karena kondisi atmosfer saat ini masih dinamis,&#8221; jelas dia.</p>
<p>Pada 12-15 Maret 2026, BMKG mencatat suhu tinggi di beberapa wilayah: Jawa Timur (35 derajat Celsius), Jawa Barat (37,2 derajat Celsius), Kalimantan (36,4 derajat Celsius), dan Banten (36,2 derajat Celsius).</p>
<p>Peningkatan suhu terjadi seiring dengan pergeseran distribusi hujan ke wilayah Indonesia bagian timur, sehingga beberapa wilayah lain memiliki tutupan awan lebih sedikit dan penerimaan radiasi matahari lebih optimal.</p>
<p>Hal ini ditandai oleh anomali Outgoing Longwave Radiation positif yang menunjukkan pertumbuhan awan minim, serta gerak semu tahunan matahari yang semakin mendekati ekuator.</p>
<p>Berdasarkan perkiraan 17-23 Maret 2026, cuaca Indonesia umumnya didominasi hujan ringan sampai sedang.</p>
<p>Beberapa provinsi perlu mengantisipasi hujan dengan intensitas sedang-lebat, antara lain Aceh, seluruh provinsi di Sumatera, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, seluruh provinsi di Kalimantan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.***</p>
<p>Artikel <a href="https://deltanusantara.com/bmkg-kondisi-panas-di-indonesia-bukan-gelombang-panas-melainkan-peningkatan-suhu-udara/">BMKG: Kondisi Panas di Indonesia Bukan Gelombang Panas, Melainkan Peningkatan Suhu Udara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://deltanusantara.com">Deltanusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Prediksi Musim Kemarau 2025, BMKG Berikan Peringatan, Siap-siap Cuaca Terpanas Hantam RI</title>
		<link>https://deltanusantara.com/prediksi-musim-kemarau-2025-bmkg-berikan-peringatan-siap-siap-cuaca-terpanas-hantam-ri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2025 08:57:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[BMKG]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca panas]]></category>
		<category><![CDATA[Prediksi musim kemarau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://deltanusantara.com/?p=5764</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Deltanusantara.com &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terbaru soal bulan terpanas di Indonesia. Hal ini disebutkan akan terjadi pasca lebaran...</p>
<p>Artikel <a href="https://deltanusantara.com/prediksi-musim-kemarau-2025-bmkg-berikan-peringatan-siap-siap-cuaca-terpanas-hantam-ri/">Prediksi Musim Kemarau 2025, BMKG Berikan Peringatan, Siap-siap Cuaca Terpanas Hantam RI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://deltanusantara.com">Deltanusantara.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Deltanusantara.com</strong></span> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terbaru soal bulan terpanas di Indonesia. Hal ini disebutkan akan terjadi pasca lebaran 2025.</p>
<p>Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebutkan bulan terpanas ini akan berkaitan erat dengan fenomena La Nina yang telah berakhir. Minggu (20/4/2025)</p>
<p>Ia juga menitikberatkan masuknya musim kemarau pada April ini. &#8220;La Nina telah berakhir. Artinya, musim kemarau akan normal. Semoga cuaca kondusif,&#8221; ujar Dwikorita.</p>
<p>Fase IOD Netral diprediksi akan bertahan hingga semester kedua tahun 2025. Berdasarkan hasil monitoring indeks IOD dan ENSO, Dasarian I Maret 2025 menunjukkan IOD berada pada kategori Netral dengan indeks-0.31.</p>
<p>Sementara itu, anomali SST di Nino 3.4 menunjukkan indeks sebesar 0.30. Kondisi ini mengindikasikan ENSO Netral dan diprediksi akan tetap Netral hingga semester kedua tahun 2025.</p>
<p>Menurut Dwikorita musim kemarau di Indonesia sudah dimulai secara bertahap mulai Maret, hingga April mendatang. Beberapa wilayah di Indonesia akan terdampak.</p>
<p>&#8220;Awal musim kemarau umumnya berkaitan erat dengan peralihan angin monsun Asia atau angin daratan beralih menjadi angin monsun Australia yang aktif,&#8221; ujar Dwikorita.</p>
<p>Pada April mendatang, wilayah seperti Lampung bagian timur, pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir Jawa Timur, sebagian bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur akan memasuki kemarau.</p>
<p>Pada Mei kemarau mulai meluas, mencakup sebagian kecil Sumatra, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian Kalimantan Selatan, Bali, dan Papua bagian Selatan.</p>
<p>Dwikorita mengimbau di sektor pertanian, dapat, menyesuaikan jadwal tanam di wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal maupun lebih lambat.</p>
<p>Mulai dari memilih varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan pengelolaan air di daerah dengan musim kemarau lebih kering dari normal.</p>
<p>Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah dapat memanfaatkannya dengan memperluas lahan sawah untuk meningkatkan produksi pertanian.</p>
<p>Untuk sektor kebencanaan dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan Normal atau Bawah Normal.</p>
<p>Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut musim kemarau tahun ini dengan kondisi iklim normal, tanpa pengaruh kuat dari iklim laut dari ENSO dan IOD.</p>
<p>Namun demikian, bukan berarti tidak ada hujan karena ada beberapa wilayah Indonesia yang memiliki sifat musim kemarau di atas normal yang memungkinkan menerima akumulasi curah hujan musiman yang lebih tinggi dari biasanya.</p>
<p>&#8220;Jadi utamanya adalah karena tidak adanya dominasi iklim global seperti El Nino, La Nina, dan IOD sehingga prediksi kami iklim tahun ini normal dan tidak sekering tahun 2023 yang berdampak pada banyak kebakaran hutan dan musim kemarau tahun 2025 cenderung mirip dengan kondisi musim kemarau tahun 2024,&#8221; kata Ardhasena.***</p>
<p>Yuk! baca artikel Deltanusantara.com di GoogleNews</p>
<p>Artikel <a href="https://deltanusantara.com/prediksi-musim-kemarau-2025-bmkg-berikan-peringatan-siap-siap-cuaca-terpanas-hantam-ri/">Prediksi Musim Kemarau 2025, BMKG Berikan Peringatan, Siap-siap Cuaca Terpanas Hantam RI</a> pertama kali tampil pada <a href="https://deltanusantara.com">Deltanusantara.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
